Input your search keywords and press Enter.

MAAF YANG TULUS

Shalom, Bahana saya telah menyakiti rekan sekerja saya sehingga saya sangat merasa bersalah. Dia sudah  memaafkan tapi saya masih belum yakin. Selain minta maaf, apa yang saya lakukan? Saya terlalu berharap lebih pada rekan kerja saya, tapi dia sangat tulus hanya ingin bersahabat. Makasih (Putri)

Jawaban:

Putri yang baik, Ada cerita seorang ayah yang  ingin mengajarkan nilai hidup bagi anaknya. Ayah tersebut memerintahkan anaknya untuk memasang paku-paku pada sebuah papan. Kemudian sang ayah memerintahkan sang anak tersebut untuk mencabutnya satu persatu Setelah itu ayahnya bertanya kepada anaknya,pemandangan apa yang tampak pada papan tersebut, jawab anaknya adalah “bekas paku-paku tersebut.

Demikianlah saat kita menyakiti orang lain, maka kita sudah menancapkan paku pada lubuk hatinya. Mungkin kita sudah meminta maaf, namun “bekas paku” yang kita tancapkan masih membekas dan perlu waktu untuk bisa membuat bekas itu menipis. Danseiring berjalannya waktu serta melalui perubahan sikap kita, maka maaf yang kita terima akan lebih utuh dan  tulus.

Sedangkan untuk keinginan Anda agar teman Anda bisa memberikan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat saran saya adalah Anda perlu melatih kesabaran serta pengorbanan yang cukup makan waktu. Masalahnya adalah kita sedang menghadapi “seonggok daging” yaitu hati manusia dan bukan mesin yang bisa kita setel semau kita. Percayalah bahwa “love never fail” artinya kalau kita mengasihi sungguh-sungguh dan tulus hati, maka pengorbanan kita tidak akan gagal. Tentunya Anda sendiri juga tidak akan merasa nyaman kalau Anda mendapatkan perlakuan dari teman yang tidak tulus atau berpura-pura sayang, jadi jangan pernah menginginkan sikap yang lebih dari kapasitas teman kita atau siapapun.

Leave a Reply