Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Yesus Sungguh Luar Biasa

Bermula di tahun 2005, selepas wisuda S-1 Ekonomi, saya menderita demam yang sangat tinggi disertai sakit kepala yang luar biasa. Setelah dirujuk di sebuah rumah sakit di Solo, akhirnya saya pun dibawa ke rumah sakit di Jakarta oleh orang tua. Sangat sakit sekali, sumsum tulang belakang saya disuntik dan diambil sampelnya untuk dianalisis oleh dokter di Jakarta. Betapa terkejutnya kami dengan hasil analisa rumah sakit tersebut yang mendeskripsikan bahwa saya terserang radang selaput otak/meningitis. Dan karena itu pula pihak rumah sakit menyarankan untuk segera dilakukan operasi besar. Operasi dilaksanakan dengan melubangi tengkorak untuk dimasukan dan dipasangkan sejenis pompa otomatis dan dibuatkan saluran yang turun sampai pada lambung untuk membuang cairan infeksi, yang seumur hidup akan tetap tertanam didalam tubuh. Operasi tersebut sangat beresiko dan pihak dokter pun sebenarnya pesimistis dengan mengatakan bahwa peluang bertahan hidup cukup kecil dan kalau pun selamat saya diperkirakan akan hidup dengan gangguan fisik dan mental karena penyakit sudah menyerang selaput otak dan efeknya pada syaraf-syaraf tubuh yang dikendalikan oleh otak.Setelah operasi berakhir, saya dapat melihat tubuh saya terbaring di ICCU dengan berbagai macam peralatan medis yang menancap di tubuh. Saya pun tidak bisa menyentuh tubuh saya sendiri dan juga tidak bisa menyentuh semua peralatan yang ada disana. Tidak begitu lama secara tiba-tiba saya berada di sebuah ruangan yang sangat luas, langit-langitnya berwarna biru muda, sangat terang tapi tidak ada matahari ataupun lampu sorot dan meskipun ada sinar terang tetapi saya tidak mempunyai bayangan. Saya lihat di kejauhan ada semacam gerbang yang sangat besar, terang dan berkilauan dengan jalan setapak yang terkesan melayang yang seperti tertutupi oleh gumpalan awan, saya pun berlari menuju ke arahnya. Setelah sampai di depan pintu gerbang tersebut, saya melihat suasana di dalam gerbang itu sangatlah indah, nyaman, damai dan di dalamnya banyak orang yang berlalu lalang dengan riangnya. Ketika mereka mengetahui saya berada di balik pintu gerbang, mereka dengan suka cita bersorak “selamat datang saudaraku…selamat kembali ke rumah…”, mereka mendekat ke pintu gerbang dan mempersilakan saya untuk segera masuk taman tersebut. Sangat terlihat wajah-wajah mereka terdiri dari berbagai etnis di dunia, dari segala usia dan jenis kelamin, mereka semua mengenakan jubah putih. Mereka memberikan senyuman terindahnya dan saya juga dapat menjabat tangan mereka serta berkomunikasi sejenak. Mereka menginginkan saya untuk membuka pintu gerbang dan bergabung dengan mereka di tempat yang luar biasa indahnya itu. Tetapi begitu saya ingin membuka gerbang tersebut, ternyata gerbang itu terkunci sangat rapat. Di sana ada 2 sosok penjaga pintu gerbang yang bukannya berdiri di depan gerbang, melainkan di dalam gerbang dan mereka hanya terdiam membisu saja, tak bergerak sama sekali. Mereka secitra dengan manusia, bertubuh tinggi besar seperti raksasa sekitar hampir 3 meter, berwajah dingin, seperti memiliki 2 buah tonjolan di punggung dan juga berpakaian berwarna putih tetapi mereka sama sekali tidak bersenjata layaknya penjaga pintu gerbang pada umumnya. Setelah beberapa saat munculah sesosok berjubah putih, berambut panjang dan berjenggot, wajahnya sangat lembut membuat hati saya menjadi nyaman sekali. Saya ingin menggapainya tetapi lengan saya masihlah kurang panjang. Dia hanya menjulurkan tangan condong ke atas dan berkata tiga kata, “Pulanglah, belum waktumu”Saat itu juga saya langsung tersadar setelah efek operasi selesai, saya terkejut mendapati panca indra tidak berfungsi dan tidak bisa mengingat apapun, tangan dan kaki kanan tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Suatu malam saya melihat ibu menangis sambil mendekap Alkitab dan melihat sebuah foto orang berjenggot, rambut panjang dan jubah putih. Karena ingatan hilang, saya pun bertanya kepada ibu siapakah orang yang ada di foto ini, dengan lafal dan intonasi yang tidak jelas (yang hanya dapat dimengerti oleh seorang ibu). Ibu pun menjawab, “TUHAN YESUS“. Sontak seketika itu juga semua ingatan tentang Tuhan Yesus kembali seutuhnya dan kami pun langsung menangis bersama. Saya kemudian jadi berpikir, berarti sesosok yang kujumpai di penglihatan waktu itu adalah Tuhan Yesus sendiri, Dia belum mengijinkan untuk masuk gerbang-Nya karena masih memiliki maksud dan rencana dalam hidup saya. Saya semakin yakin bahwa saya akan dipakai-Nya dalam rencana-Nya. Dia telah memberikan kehidupan kedua.Sejak saat itulah saya menjadi lebih bersemangat untuk memulihkan fisik dan kemampuan otak saya. Mulai dari bedrest, kursi roda, walker, tongkat penyangga, sepatu besi sampai pada lepas seluruh alat bantu berjalan terus saya jalani dengan penuh semangat sampai dengan saat ini. Jenuh itu pasti, karena harus melakukan kegiatan yang sama selama bertahun-tahun, belajar untuk berdiri dan berjalan kembali. Saya tidak mau terus menerus menggantungkan hidupku kepada orang lain. Saya laki-laki, tidak boleh terus meratapi apa yang telah terjadi, saya kelak akan menjadi seorang pemimpin, minimal dalam rumah tangga. Hari lepas hari, mulai semakin jelas berbicara, menulis dengan baik dan sedikit demi sedikit ingatan tentang masa lalu berangsur kembali. Maka dari itu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah hukum untuk melatih otak, itupun masih memakai sepatu besi jadi untuk berjalan saja seperti robot, akhirnya di tahun 2007 saya berhasil wisuda S-1 Hukum. Saat kuliah banyak mendapatkan cemoohan dari beberapa mahasiswa terkait dengan fisik saya, di dalam pencarian pekerjaan pun fisik selalu menjadi bahan penilaian bagi mereka (perusahaan). Meski title saya lebih dari satu, tapi saya sadar bahwa saya minim pengalaman kerja ditambah lagi fisik yang masih kurang sempurna. Hasilnya selalu ditolak (dengan halus dan kasar) perihal fisik saya.Dari sana saya berpikir, apakah ada wanita yang menerima keadaan saya, secara fisik notabene seperti ini, kesiapan finansial juga masih sangat rendah dsb. Saya pun berdoa dan berdoa kepada Tuhan untuk berkenan memberikan “pencerahan”. Alhasil, selang tidak begitu lama, kuasa-Nya mulai mengalir, saya berkenalan dengan seorang finalis Putri Solo yang cantik, yang sama sekali tidak memandang fisik. Dia pun mengatakan, “Tidak semua orang bisa bangkit dari keadaan sepertimu”, itulah yang semakin membuatku semakin bersemangat dan selalu bersyukur dalam hidup. Dekat, semakin dekat dan semakin dekat, akhirnya di tahun 2010, satu tahun setelah saya wisuda S-2 Hukum, kami pun akhirnya menikah. Dan bukan hanya sampai di situ saja, sekarang saya telah menjadi pengacara dan dosen di beberapa perguruan tinggi swasta (PTS) di Solo.Di tahun ke-8 usia pernikahan kami, kami masih belum mendapat kepercayaan-Nya mengenai hadirnya momongan, kamipun kadangkala iri dengan pasangan suami istri lain, yang dalam waktu singkat telah dikaruniai momongan, tetapi berdasarkan pengalaman untuk selalu bersabar, kami selalu setia menunggu saat yang tepat menurut-Nya. Tuhan telah mengambil sekian tahun dalam hidup saya akan tetapi berangsur-angsur Dia mengembalikannya lagi bahkan berlipat. Dia dulu belum memberi ijin untuk masuk gerbang-Nya, sekarang Dia pun juga belum memberikan anugerah-Nya melalui waktu-Nya kepada kami. Kami pun akan tetap berdoa, bersyukur, bersabar dan terus berusaha mewujudkan rencana kami sesuai kemampuan, apa pun hasil akhirnya. Rencana Dia bukanlah yang tercepat tetapi melainkan waktu dan tepat guna.

Saya hanyalah seorang manusia biasa, bukan siapa-siapa akan tetapi Yesuslah yang luar biasa, Dia dapat menjadikan sesuatu hal yang dirasa tidak mungkin menjadi sangat mungkin bahkan pasti, asalkan kita memiliki iman, keyakinan dan kepercayaan. Dia dulu memberi sakit-penyakit diotak tetapi Dia sekarang menyediakan ladang pekerjaan bagi saya yang juga menggunakan otak dan sampai dengan sekarang pun saya selalu bersemangat dalam mengabarkan kabar kesukaan Tuhan, melalui penyampaian Firman Tuhan, memberi kesaksian di gereja-gereja dsb. Sampai dengan sekarang saya sengaja tidak ingin mengetahui apa penyebab sakit penyakit saya, saya hanya mencatatnya dalam hati bahwa Dia memberi sakit penyakit kepada saya karena Dia sayang dan mengasihi. Selain memberikan hal tersebut kepada saya, Dia sekaligus memberikan kekuatan-Nya untuk terus bertekun, bersemangat dan berpengharapan. Tuhan memang luar biasa. Yudhi Widyo Armono

Leave a Reply