Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Tuhan Selalu Tepat Waktu




Meskipun Tuhan memberi pengalaman pahit, Dia selalu menolong tepat waktu. Bahkan keselamatan Tuhan anugerahkan secara gratis. Dia Tuhan yang baik!

Mulanya saya (Pdt. Daniel Gersom Willy Saerang) hanya divonis menderita asam urat. Namun, karena kesibukan tugas sebagai sekretaris umum majelis pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), saya tidak begitu menghiraukannya. Apalagi GPdI tengah bersiap menghadapi Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) dan HUT ke-70 di Manado, Sulawesi Utara, 2001 lalu. Usai perayaan tersebut, saya kembali ke ladang pelayanan di GPdI Shekinah Tomang, Jakarta dan langsung menuju Cianjur.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari mengajar di Sekolah Alkitab Cianjur, asam urat saya kambuh. Akibatnya kaki saya sering kesemutan dan kejang, padahal harus menginjak pedal rem dan gas bergantian. Lalu lintas yang merayap di jalan tol menyebabkan penderitaan saya bertambah. Tidak jarang untuk menekan pedal, harus menggunakan tangan. Tidak terhitung berapa kali saya hampir menabrak mobil di depan atau ditabrak dari belakang.

Dari pemeriksaan dokter, saya divonis; gagal ginjal kronis. Fungsi ginjal saya hanya tinggal 4%. Artinya, cuci darah sudah tidak bisa dielakkan.

Sejak itulah saya berteman dengan jarum-jarum besar, panjang yang menusuk tubuh. Sering jarum yang ditusukkan tidak tepat sehingga harus dibelok-belokkan di dalam daging untuk mencari aliran darah yang tepat. Sungguh menyakitkan.

Bagi saya harapan untuk hidup normal merupakan kerinduan yang besar. Karena hidup abnormal begini riskan dan banyak dampaknya. Selain kondisi yang menurun juga rentan terserang penyakit lain.

TRANSPLANTASI GINJAL
Satu-satunya jalan harus menjalani operasi transplantasi ginjal. Untuk itu diperlukan donor ginjal. Dan, Tuhan sangat baik. Dia memberkati saya sebagai bagian dari 8 orang bersaudara.
Setelah melalui proses pemeriksaan, adik saya Debora yang terpilih. Karena resistensinya kurang dari 10%, jauh di bawah batas toleransi 20%.

Rupanya adik saya ini sudah disiapkan Tuhan untuk menjadi donor ginjal bagi saya. Sesungguhnya riwayat masa kecilnya begitu sarat penderitaan. Ia mengalami penyakit serius di bagian kaki yang nyaris merenggut nyawanya. Waktu itu ia hampir lumpuh dan tubuhnya menjadi sangat kecil. Harapan hidupnya nyaris musnah. Ketika menyatakan siap mendonorkan ginjalnya, ia dalam keadaan sehat dan prima sebagai ibu dari 3 orang anak.

Tidak itu saja, Dia telah jauh hari memberikan pendamping hidup yang cakap, istri tercinta. Ia tidak sungkan menggantikan fungsi saya di depan jemaat. Bahkan rela mengantar saya
berobat ke luar negeri. Ia juga sigap mengurus paspor saya yang kadaluwarsa dan melobi airlines untuk mengizinkan saya dengan kondisi yang lemah dapat naik pesawat menuju Singapura.

Ia juga rela menembus Jakarta yang terendam banjir untuk sampai di R.S. PGI Cikini tempat saya dioperasi. Bahkan mobil Mitsubishi Lancer kami telah diubahnya menjadi rumah berjalan. Di dalam mobil ini terdapat pakaian, buku, dan semua peralatan yang dibutuhkan.

Sambil menunggu jam besuk sorenya atau menunggu saya selesai cuci darah, ia berdoa dan membaca Alkitab di dalam mobil yang diparkir di halaman rumah sakit.

TUHAN MENYEDIAKAN
Dalam proses cuci darah, saya melakukannya tiga kali seminggu. Masing-masing proses bernilai Rp550 ribu, ditambah suntikan yang dilakukan dua kali seminggu. Masingmasing
berharga Rp250 ribu.

Demikian pula waktu cross check ke Mt. Elizabeth, Singapura sebanyak dua kali. Biaya yang dikeluarkan hampir tiga kali lebih besar dari harga di Jakarta. Namun, semua itu Tuhan sediakan, melalui Bapak Hendra Tjandra. Ia seorang pengusaha yang dipakai Tuhan bukan
hanya mendukung biaya perawatan, tapi mendukung pelayanan kami.

Setelah menjalani operasi pencangkokan ginjal. Saya berangsur sembuh. Bertepatan dengan itu gedung gereja kami ditahbiskan pada tanggal 14 Desember 2002. Pembangunannya bersamaan dengan vonis dokter dua tahun yang lalu. Benarlah bahwa manusia berhutang begitu besar kepada Sang Pencipta.

Isa Hu yang ajaib, Ku berhutanglah Ku berhutang jiwa, Lagi slamatku Biarlah ku puji, Spanjang hidupku Puji Yesus Raja, Imam yang kudus. Rob



Leave a Reply