Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

‘Tersesat di Jalan yang Benar’




eBahana.com – Romo Antonius Suyadi, SJ lahir di Gunung Kidul, 3 Agustus 1965. Ia berkeliling untuk menjalankan tugas misinya dari kota Jawa Tengah, Ambon, Kupang, Aceh, Medan dan Jakarta. Ia melakukan tugas misinya berupa mengurus para pengungsi korban bencana.Ia bertugas di Paroki Kramat baru bulan April ini. Sebelumnya bertugas di Yogyakarta selama 5 tahun.Dari tahun 2012-2017 di Jakarta di Kanisius.

Ia penasaran melihat ada seorang yang berjubah putih dan tampan tidak menikah. Selama menjadi romo ada rasa semangat dan tidak semangat juga dan akhirnya ia menerima panggilan Tuhan ini dan Tuhan yang mengaturnya. Ia terlahir sebagai anak ke 4 dari 6 saudara dan Ayahnya bernama Mangundikromo Wajiyo dan ibu yang bernama Mangundikromo Ngajinoh.

Panggilan hidup di dalam agama Katolik ada bermacam-macam yaitu ada panggilan yang berkeluarga, romo dan tidak menikah tetapi tidak menjadi biarawan atau biarawati sifatnya terbuka dan panggilan itu semuanya sama. Ia merasakan panggilan ini merasa bebas untuk melakukan karya-karya dan mengabdi pada Tuhan di pelayanan. Untuk anak-anak muda yang ada sedikit sentuhan atau ketertarikan cobalah untuk menanggapi karena panggilan itu tidak selalu jelas awalnya dan nanti akan Tuhan mendampingi, membimbing dan akan semakin jelas bahkan mungkin sampai mati pun tidak 100% bahwa Tuhan memang betul-betul diyakini tetapi ia berprinsip tersesat dijalan yang benar karena ia sering kali tidak tahu atau mengalir begitu saja jalan yang ia lewati dan itulah cara Tuhan membimbing juga dan memberikan harapan untuk ia menghadapi tantangan apapun akan selalu dibawa ke jalan yang benar dan jangan menganggap bahwa panggilan romo, biarawan maupun biarawati itu lebih suci, lebih tinggi daripada sebagai panggilan kaum awam dan semuanya itu sama . kalau jadi romo, suster atau bruder jangan menempatkan diri di atas dan semuanya sama dengan kaum awam dan masing-masing mempunyai tantangan dan kebahagiaannya sendiri-sendiri.

Ia bertugas sebagai koordinator untuk karya-karya kerasulan yesuit di wilayah Asia Pasifik yang meliputi dari Jepang, Korea, Cina, Taiwan, Hongkong, Myanmar, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Philipina, Indonesia Timur Leste dan Australia itu wilayah yang melingkupi tugasnya dan ia lebih banyak melakukan travelling dan banyak mengunjungi karya-karya yesuit di wilayah tersebut. Adapun kesulitan dalam melakukan karya yaitu kesulitan bahasa.Di Asia tidak mempunyai bahasa yang sama dan berbeda dengan di Afrika, Amerika Latin, Eropa dan mereka mempunyai bahasa yang bisa dipahami oleh semua. Sedangkan di Asia bahasanya berbeda-beda dan yang kita gunakan ialah bahasa asing untuk ia yaitu bahasa inggris. Yang sungguh-sungguh menguasai bahasa Inggris yang native speaker yaitu di negara Australia, Philipina dan Malaysia. Negara maju seperti Singapura, Australia, Jepang dan Korea dan adapun negara berkembang seperti Indonesia dan ada negara miskin seperti Myanmar, Timur Leste dan bagaimana mengkoordinir gerak langkah perusahaan dan masalahnya pun berbeda-beda dan ada yang menarik karena gereja ada dimana-mana dan bahkan ada di negara Cina dan Vietnam yang dikenal dengan daerah komunis. SusanĀ 



Leave a Reply