Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

SURGA MENDENGAR

Oleh: Jenny Gichara

 

Jika kau baca ini, biarlah hatimu terketuk pilu

Pertanda Natal masih milik kita

bagai kasih-Nya

yang tak pernah lekang dimakan waktu

 

Ini tahun kesepuluh tanpa kehadiran Rama mengisi hari-hariku.  Dulu aku masih berontak karena tidak bisa merima  keadaan, tapi lama-kelamaan lebih baik dibawa santai dan tenang supaya hidup berubah warna. Tak ada yang perlu ditangisi sejak kepergiannya. Kebanggaanku satu-satunya adalah kedua anakku yang ganteng dan cantik. Merekalah teman yang selalu setia menjadi penghibur hatiku.

Keputusan Rama untuk pergi menjauh adalah pilihan terbaik menurutnya.  Apa dayaku, sejak anakku Deo divonis menderita autis, Rama seakan merasa ditikam malu. Ia tidak pernah menyangka akan mendapat seorang anak yang tidak sempurna.  Ia tidak bisa menerima kenyataan  di depan matanya, tidak bisa bertahabn ketika orang menyindir “Sudah  berhasil tapi kok punya anak yang aneh?”

Sejak itu hari-hari di rumah bagai neraka. Rama tidak mau bertemu dengan warga tetangga. Sasaran kemarahan tentu jatuh padaku karena akulah yang melahirkan Deo. Hampir setiap hari terjadi pertengkaran hanya karena persoalan sepele. Buntutnya, pasti akan menyalahkanku. Tapi aku bersyukur karena hingga kini aku masih diberi kekuatan oleh-Nya.

Tidak perlu berlama-lama baginya mengambil keputusan. Tak ada harapan lagi bagiku untuk meminta Rama kembali. Ia lebih menikmati kehadiran Lala, teman masa kecilnya sebagai pendamping hidup selamanya. Salahkah anak bila penyakit mendera tanpa diundang?

Masih jelas teringat ketika koper traveler digiringnya  keluar dari kamar dengan wajah tak bergeming. Kedua tanganku masih menahan tangannya di depan pintu ruang tamu.

“Jangan pergi, Papa. Anak-anak masih kecil dan membutuhkanmu,” bujukku dengan derai air mata.

“Sori, pokoknya aku harus pergi.”

“Pa, aku mohon. Demi anak kita. Mereka masih perlu Papa.”

“Ini semua gara-gara kamu. Anak-anak lahir tidak sempurna. Aku malu, Renata.”

“Anak-anak tidak salah, Pa. Mereka tidak tahu apa-apa.  Kalau boleh memilih, mungkin juga mereka akan berkata  tidak ingin dilahirkan oleh orang tua seperti kita,” tandasku.

“Ah, omong kosong. Tak seorang yang bisa menghalangi langkahku.”

“Aku gak rela ditinggal. Aku tahu hatimu sudah terpaut pada wanita itu orang lain. Itu pilihanmu.  Tapi , demi anak, jangan pergi, Pa.”

“Ini jalan terbaik. Demi masa depanku.”

“Bagaimana dengan masa depanku? Apa Papa tak memikirkannya?”

Rama terdiam dan tidak mau menjawab. Kakinya terus melangkah hingga samar-samar ditelah gelapnya malam.

Sejak itu, tak ada kabar berita lagi tentang Rama. Mulutku kelu dan lidahku terkunci rapat. Gong sudah ditabuh. Keputusan telaknya nyaris menjungkar-balikkan hidupku. Beruntung dua bocah masih erat dalam naungan napasku. Yah, hidup harus berjalan. Dua tanggung jawab besar aku harus lakoni.

Paling menyakitkan bila Deo bertanya menjelang malam Natal.

“Papa tidak pulang ya, Mam? Dia nggak rindu kita lagi, ya?”

Pertanyaan perih yang tak bisa langsung kujawab. Aku hanya mampu mengelus kepala dan mencium keningnya.

“Papa pasti pulang, Nak,” kataku meyakinkan Deo meski aku tak pernah yakin dengan hal itu. Tapi aku harus membanggakan hati Deo.

Begitulah tahun demi tahun berlalu sampai bocahku beranjak remaja tanpa figur ayah. Ada rasa minder dan kurang percaya diri dalam hari-harinya. Tapi aku tahu, doaku lebih kuat dari segalanya. Itulah kekuatan mereka terus bertahan dan akhirnya selalu menjadi bintang di kelas.

Pernah saat perayaan hari kemerdekaan, gurunya memanggilku saat kegiatan upacara bendera. Ternyata Deo meraih juara I lomba melukis tingkat kabupaten dan akan diadu menuju provinsi. Di depan ratusan mata siswa, aku melihat harga diri dan optimisme Deo bangkit dan percaya dirinya bertambah.

Begitu juga dengan Dita, hampir setiap tahun menjadi juara kelas sejak ia duduk di bangku SMP. Benar-benar anak-anak yang berprestasi meskipun ia sering diledek punya adik autis yang aneh. Namun, sejak sering mendapat penghargaan, ia tidak pernah peduli lagi dengan apa kata orang tentang dirinya dan adiknya.

Malam semakin larut di malam Natal.  Kami baru saja selesai ibadah Natal di rumah. Dita dan Deo menikmati menu kue-kue Natal favorit mereka sambil menonton tv siaran subuh yang  kebetulan menayangkan program Natal. Pintu rumah sudah tertutup rapat. Begitu juga dengan pintu gerbang depan.  Namun entah kenapa, ada orang yang bisa sampai mengetok pintu rumah dan berdiri di depan pintu.

Lolongan malam tak akan berbunyi andai Boogie tidak menggonggong. Lantaran penasaran, Deo  membuka pintu. Seorang lelaki tua bertopi dengan menutup wajahnya berdiri di sana. Wajah lusuh dengan pakaian kmal. Setelah berbicara sejenak, Deo memanggilku.

“Mam, ada tamu,” panggil Deo kencang.

Hatiku bertanya-tanya kenapa ada tamu berkunjung selarut itu.

Mataku nanar mencari tamu yang dimaksud Deo di depan pintu. Tapi karena aku betul-betul sangat mengenal sosok itu, spontan aku berteriak kencang diiringi kekagetan Deo.

“Pergi, jangan pernah datang ke rumah ini,” teriakku dengan tangan  masih mengacung.

Dita sampai ikut keluar ruangan melongok tamu misterius tersebut.

“Ada apa?” tanya Dita tenang.

Mama diam. Wajahnya memberengut marah.

“Mama, kenapa?” Deo masih terheran-heran.

“Lelaki ini adalah papamu dan ia sudah menelantarkan kita selama bertahun-tahun. Kini ia datang seenaknya. Jangan pernah izinkan ia masuk bila hanya merusak hidup kita kembali.”

“Papa? Tak sedikit pun aku mengenalnya. “Tapi, bukankah ia selalu ada dalam doa-doa Mama? Kenapa saat Papa datang, Mama justru mengusirnya?” jawab Deo.

Mulutku terkunci. Deo benar. Aku sedang mengingkari kata hatiku.

“Aku hanya datang untuk minta maaf. Kalau tidak diterima nggak apa-apa.”

“Tidak ada maaf untuk seorang pria sepertimu.”

“Mama, jangan kasar,” sela Dita.

“Dia tidak layak hadir di tengah kita.”

Deo dan Dita saling berpandang-pandangan.

“Yang penting aku datang minta maaf. Sekalipun tidak diterima, nggak apa-apa. Paling tidak aku masih sempat melihat anak-anak kita yang sudah bertambah besar. Terima kasih,” pria itu berpaling melangkah pergi.

Spontan Deo menjerit.

“Papa.”

Pria itu tak menoleh, bahkan berlari dan berlari. Dita dan Deo mengejarnya, tetapi ternyata kekuatan larinya melebihi kekuatan kedua anaknya. Kejar-mengejar terjadi hingga tiba di lampu merah. Sebuah truk yang sedang melintas kencang seketika menyambar papanya dalam hitungan detik. Darah bersimbah di jalanan gelap. Suasana mencekam. Hanya Dito dan Deo yang datang memeluk ayahnya dengan teriakan pilu.

Mereka mengangkat tubuh ayahnya dan dibawa ke rumah sakit. Dita dan Deo terus berdoa agar papanya diselamatkan. Mulutku hanya ternganga menyaksikan semua bagai dalam sinetron kehidupan. Kakiku kembali melangkah ke rumah.

Pagi segera menjemput hari cerah. Dito dan Deo masih di rumah sakit menunggu kabar sang papa dari dokter. Dita segera menghubungiku.

“Papa mencari Mama. Dia menunggu Mama.”

Hatiku masih membatu dan selalu membayangkan perlakuannya di masa kecil untuk kedua anaknya. Haruskah aku memaafkannya? Bukankah aku yang selalu berdoa untuknya agar ia pulang untuk membangun keluarga kembali? Mengapa aku masih mengeraskan hati? Doaku telah terjawab karena surga mendengar.

Tanpa pikir panjang aku berangkat menuju rumah sakit. Deo dan Dita langsung berlari mendekapku.

“Mama, kondisi papa sangat lemah.  Kasihan, Ma. Papa tidak punya siapa-siapa lagi. Istrinya pergi dan ia ternyata tidak punya anak, Ma. Mama yang harus memberi semangat pada Papa. Mungkin Papa adalah hadiah terindah buat keluarga kita,” ucap  Dita.

Hatiku terenyuh mendengar perkataan Dita. “Hadiah Natal Terindah.”

Perlahan aku masuk ke ruang perawatannya.

“Maafkan aku, Papa,” aku menggengam tangannya.

Tiba-tiba matanya terbuka dengan linangan air mata.

“Maafkan aku juga, Ma. Aku terlalu banyak salah. Tidak bisa dihitung.”

Mulutnya masih sulit berkata-kata di balik seluruh alat bantu yang melekat di tubuhnya. Air mata Deo dan Dita ikut juga mengalir.

Aku memeluk kedua anakku dengan tangan yang terus menggenggam jemari suamiku. “Betul, Tuhan. Surga mendengar….yes, surga mendengar. Suamiku adalah jawabannya.”

By: Jenny Gichara

Teacher & Writer, Pamulang-Banten

Leave a Reply