Input your search keywords and press Enter.

Pelayanan di Balik Terali Besi

Bagi sebagian orang datang ke kantor Polisi dan berhadapan dengan penegak hukum adalah sesuatu yang menakutkan, apalagi jika harus masuk ke ruang tahanan dan beinteraksi secara langsung dengan warga binaan yang berada di balik terali besi, tentu saja itu butuh nyali dan mental baja, bukan mental kerupuk! Tetapi tidak demikian halnya bagi Penulis dan tim pelayanannya, yang selalu mencari peluang pelayanan di ruang tahanan kantor Polisi, karena ruang tahanan yang ada di Polsek, Polres dan Polda adalah merupakan ladang pelayanan misi terbaik menurut kacamata penulis.

Mungkin ada diantara pembaca artikel ini bertanya dalam hatinya, mengapa anda mau melayani di tempat-tempat tersebut? Itu PILIHAN atau PANGGILAN…??? Jika ingin mengetahui jawabannya, pembaca perlu menyimak artikel sebelumnya yang berjudul  “DREAM BIG” yang telah dimuat pada tanggal 17 Juli 2018 yang lalu. Sekedar untuk diketahui bahwa artikel ini sengaja ditulis seperti cerita bersambung, entah terdiri dari berapa episode Penulis sendiri tidak tahu, yang pasti ini adalah artikel episode kedua dan akan terus bersambung ke episode berikutnya. Setiap kisah yang disajikan ada hubungannya dengan kisah sebelumnya, asyik, seru, menegangkan dan penuh dengan inspirasi, yang akan membuat pembaca semakin penasaran. Oleh karenanya pastikan untuk selalu mengikuti kisahnya, siapa tahu dapat memberikan inspirasi yang lain, sehingga membuat hidup ini penuh warna.

Menurut pengamatan Penulis ada beberapa keunggulan dalam melayani warga binaan di ruang tahanan kepolisian yang mungkin tidak disadari oleh pelayan lain, diantaranya adalah:

  • Tidak perlu bayar sewa gedung, karena tempat telah disediakan secara cuma-cuma alias gratis dan tetap gratis sampai kapanpun selama kita mau datang melayani di tempat tersebut.
  • Tidak perlu mencetak kartu undangan atau brosur untuk mengundang dan mengumpulkan orang, karena orang-orangnya telah berkumpul dan bisa dihadirkan tepat waktu nggak pake molor, bahkan sebelum para pelayan datang mereka telah lebih dulu hadir dengan tertib dan antusias.
  • Tidak perlu menyediakan uang transport bagi para peserta yang hadir dan mengikuti acara ibadah persekutuan do’a ditempat tersebut, karena jarak dari tempat tinggal mereka dengan ruang acara ibadah persekutuan hanya beberapa langkah saja, dan dapat dipastikan mereka tidak akan terlambat.
  • Tidak perlu membayar petugas keamanan selama pelayanan acara ibadah persekutuan do’a berlangsung, situasi dan kondisi di lokasi dijamin aman dan tidak ada ancaman dari pihak manapun, karena petugas kepolisian selalu siap menjaga keamanan, bahkan ada kalanya ada diantara petugas kepolisian yang turut bergabung dan membaur bersama dengan warga binaan.
  • Tidak membutuhkan ijin yang rumit, tetapi cukup mengajukan Surat Permohonan kepada kepada Kapolsek, atau Kapolres, atau Kapolda setempat untuk dapat membuka pelayanan acara ibadah di tempat tersebut. Setelah mendapat disposisi dari Pejabat yang berwenang, selanjutnya diberikan jadwal oleh Kasat Tahti untuk di pelayanan di Rutan Polres, dan oleh Direktur Tahti untuk pelayanan di Rutan Polda.
  • Pembicara bisa lebih leluasa dalam menyampaikan pekabaran firman Tuhan dan tidak akan ada yang komplain, meskipun berada ditengah-tengah pemeluk agama mayoritas dan agama lain non Kristen, terkesan mereka diam seribu bahasa seperti dikatupkan mulutnya selama acara ibadah berlangsung, sesekali ada diantara mereka yang ikut bertepuk-tangan dari sarangnya tanpa diketahui motivasinya.
  • Pekabaran firman Tuhan yang disampaikan oleh Pembicara dan lagu puji-pujian yang dikumandangkan oleh warga binaan yang mengikuti acara ibadah persekutuan do’a secara tidak langsung pasti didengar oleh semua warga binaan yang berada di ruang tahanan tersebut, tak terkecuali termasuk para petugas kepolisian yang sedang berjaga, suka atau tidak mereka pasti mendengar dan tidak mungkin mereka akan menutup telinganya, bukankah itu trobosan yang luar biasa?
  • Di ruang tahanan tersebut kita bisa ketemu dengan banyak orang dari berbagai macam suku, agama dan budaya, baik pria maupun wanita segala usia, mulai dari remaja yang berusia belasan tahun hingga opa-opa dan oma-oma yang telah lanjut usianya. Profesi merekapun bermacam-macam diantaranya ada bandar narkoba, perampok, pembunuh, pencuri, pembegal, pemerkosa, pengacara, dokter, pendeta, polisi, anggota DPR, koruptor, pejabat Negara dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk dapat melayani di lokasi seperti tersebut di atas tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi jika dilakukan dengan hikmat dan ambisi manusia yang pada umumnya cuma sekedar ingin memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan politik, penggalangan dana, meningkatkan popularitas dan segudang kepentingan lainnya yang tidak ada korelasinya dengan pelayanan pembinaan rohani. Berbagai macam kendala dan tantangan dengan segala resiko yang bisa terjadi dan menimpa para pelayan kapan saja, sebab ruang tahanan kepolisian adalah merupakan wilayah tertutup bagi publik dan banyak peraturan yang harus ditaati untuk dapat berkunjung ke wilayah tersebut. Itulah sebabnya mengapa tidak banyak gereja atau hamba Tuhan yang datang untuk melayani warga binaan yang berada di balik terali besi, padahal mereka sangat mengharapkan kehadiran dan uluran tangan para pelayan rohani yang mengaku sebagai hamba Tuhan. Tak perduli bingkisan apapun yang dibawa oleh para pelayan dan hamba Tuhan yang datang mengunjungi mereka akan sangat dihargai, sekalipun hanya sekedar renungan singkat dan motivasi rohani pasti akan diterima dengan ucapan syukur. Mereka sangat membutuhkan bimbingan rohani yang menyejukkan dan membuat sukacita mereka kembali bersemi, keadaan mereka terpuruk bagaikan domba yang jatuh ke dalam jurang genangan lumpur, mustahil dapat menyelamatkan diri tanpa pertolongan orang lain.

Tetapi, tahukah pembaca? Sipapun dia dan apapun pangkatnya, saat digelandang ke kantor Polisi dan digiring menuju hotel prodeo alias ruang tahanan, mentalnya akan jatuh dan perasaannya seolah-olah datang kiamat, dunianya menjadi gelap-gulita, dukacita dan putus-asa sudah pasti menyelimuti dirinya. Sehingga tidak mengherankan jika ada diantara mereka yang terpaksa harus mengakhiri hidupnya alias bunuh diri, ada yang melakukannya dengan cara gantung diri di kamar mandi dengan menggunakan kain seadanya dan akhirnya benar-benar tewas. Tetapi ada pula yang mencoba dengan cara menelan benda seperti paku dan kunci, namun tidak sampai menemui ajalnya, dan ketika mendapat pencerahan rohani dari hamba Tuhan yang datang melawat mereka, dengan jamahan Roh Kudus yang lemah lembut dan penuh kasih melalui tangan hamba-Nya menyadarkan, dan mengubah hidupnya perlahan-lahan menjadi lebih baik. Pandangan rohaninya yang selama ini kabur, bahkan nyaris buta akibat dari gemerlapnya dosa yang menyilaukan mata hati mereka, sementara mereka sedang kehilangan kesadaran secara rohani. Jika tidak segera disadarkan bukan tidak mungkin, malapetaka yang lebih dahsyat akan menimpanya hingga berujung kebinasaan. Kondisi mereka seperti domba yang tersesat di hutan rimba, mungkin saja sebagian diantara mereka sadar bahwa mereka telah tersesat, tetapi tidak tahu jalan kembali. Karenanya mereka perlu dicari dan dituntun kembali ke kandang-Nya yang kudus, tetapi siapakah yang akan mencari dan menuntun mereka? Jawabannya ada di dalam hati saudara dan saya sebagai murid Tuhan Yesus. Sadar atau tidak, dipundak saudara dan saya tugas suci dan tanggungjawab mulia itu diletakkan oleh sang Gembala Agung itu.

Renungan untuk menggugah hati, adakah diantara para pembaca artikel ini yang merasa tergerak hati ingin mengulurkan tangan untuk melayani saudara-saudari kita yang sedang meringkuk tak berdaya di balik terali besi dan terasing dari dunia luar oleh karena berbagai masalah yang menyandera mereka, dan yang kini tersebar di seluruh pelosok nusantara? Kita perlu bekerjasama bergandengan tangan satu sama lain untuk menjangkau mereka, tanpa memandang suku, bangsa, budaya dan agama mereka. Marilah kita wujudkan cinta kasih kita kepada sesama dengan berbagai tindakan yang nyata, sekecil apapun peran kita dalam melaksanakan misi Tuhan Yesus melayani domba-domaba-Nya yang terperangkap dalam lembah kegelapan dosa sangatlah berarti, kendatipun hanya datang melempar senyum itupun jauh lebih baik daripada hanya berdiam diri tanpa memperdulikan mereka.

Tuham Yesus  berkata :

 “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu,sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”   (Matius 25:40)    

Kisah di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah pelayanan Penulis yang akan disajikan melalui ebahana media online, nantikan kisah berikutnya yang bertema “BERKAT DIBALIK TERALI BESI” akan segera hadir di media yang sama. Jika pembaca ingin mengetahui lebih banyak tentang kisah petualangan Penulis dalam pelayanannya di ladang misi bersama timnya, temukan jejak Penulis di dunia maya melalui berbagai media sosial yang anda ketahui.

Selamat Melayani Tuhan Yesus Memberkati ……. !!!”

 

 

Kesaksian  ke. II    :     Pdt. Timotius Sunyoto, M.Miss.

Leave a Reply