Input your search keywords and press Enter.

Menembus Batas Kemustahilan

Janias Miagoni adalah anak suku pedalaman Papua. Kisah perjuangannya mengejar impian untuk meraih pendidikan tinggi telah difilmkan, Denias, Senandung di Atas Awan. Perannya dimainkan oleh Albert AFI Junior, didukung artis kondang seperti Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen, dan Mathias Muchus. Film ini terpilih sebagai film feature anak terbaik Festival Film Asia Pasifik 2007. Masuk panitia seleksi piala Oscar.

Sejak usia 3 minggu, ibunya meninggal dunia.Bayi Janias banyak diurus oleh kakaknya yang telah menikah. “Sebagai ganti ASI, ayah dan kakak kasih saya air tebu,”ungkap kelahiran Arwanop, 10 Juni 1988. Bersama teman-teman kampungnya di Arwanop, daerah di sekitar Wamena, Janias bersekolah di SD Inpres yang hanya punya dua guru. Belajar di tempat sederhana dengan proses belajar yang jauh dari layak.

Seragam SD yang dipakainya adalah pemberian. Celana di bagian pantat sudah robek besar tapi Janias bangga sekali bisa pergi ke sekolah. Ia hanya punya satu buku yang dipakai selama setahun. Menulis dengan pensil supaya jika perlu kertas Janias menghapus catatan lamanya. Tidak ada tas sekolah, untuk membawa buku dan pensilnya Janias memakai noken (tas khas Papua).

Sebenarnya ada biaya pendaftaran Rp 10.000,- karena tidak memiliki uang sama sekali, Janias memberanikan diri untuk menghadap Kepala Sekolah yang berasal dari Suku Moni. “Saya ngomong pake bahasa daerah. Saya bilang ingin sekolah tapi tidak punya uang. Bapa itu kasih saya masuk,” kenangnya.

MALEO SANG MOTIVATOR
Semangat belajar Janias tumbuh ketika ia bertemu Maleo. Maleo panggilan Janias untuk seorang tentara yang sedang bertugas di kampungnya. Meski kemungkinan besar Maleo adalah nama kesatuan di TNI. “Saya sering main ke barak Maleo. Ia mengajarkan matematika dan pengetahuan umum. Maleo selalu bilang kalau kita harus pintar. Dia juga bilang ada sekolah bagus di kota.”

Di akhir tahun ajaran Janias naik kelas dua dan ia mendapat rangking ke-4 dari 25 murid. Liburan pun tiba. Terngiang-ngiang kata-kata Maleo bahwa di balik gunung ada kota dan ada sekolah bagus. Sekolah bagus? Seperti apakah? Janias mereka-reka sendiri di dalam hatinya. Kata-kata Maleo seperti percikan api yang memanasi semangatnya.

Semangat untuk memenuhi keingintahuan tentang sekolah.Berbekal noken berisi sebutir ubi dan buku sekolah satu-satunya, Janias meninggalkan rumah menyusuri jalan setapak yang naik turun. Berjalan berkilo-kilo tanpa alas kaki. Sampai di Desa Banti ia teringat punya saudara dari Bapaknya. Janias mampir namun ia tak bisa tidur lelap pikirannya melayang pada kota yang bernama Tembagapura. Kata Maleo di sana ada sekolah bagus!

MENGEJAR IMPIAN
Janias berlari menuju arah kota. Ini dia! Area besar PT. Freeport Indonesia,perusahaan tambang asing yang bergerak di bidang pertambangan tembaga dan emas di Papua. Penjagaan sangat ketat, pagar setinggi 6 meter. Namun tekadnya tak dapat dibendung Janias pun mengendap-endap menghindar dari mata para pengawas yang bersenjata.
Ia berhasil masuk. Melihat pusat perbelanjaan yang sangat besar. Semua orang berpakaian rapi. Pemandangan yang tak biasa.

Janias mengamati semua itu. Kagum benar ia. “Ajaib, saya bertemu adik ibu saya, Om Fidelis Zonggonau, yang tinggal di area itu. Dia memeluk dan mengajak ke rumahnya. Om membelikan baju dan sepatu yang langsung saya pakai. Ketika om pergibekerja, saya kabur. Pikiran saya cuma satu, ingin segera lihat sekolah bagus.” Janias terpaku. Melihat gedung sekolah Yayasan Pendidikan Jaya Wijaya yang megah. Ketika mendekat, ia melihat seorang pria berbadan tegap memegang raket. Janias memberanikan diri mendekat dan bertanya, “Bapa seorang guru?” pria itu mengangguk. Mata Janias berbinar. Senang bukan main.

Pria itu adalah Utun Asikin, guru olah raga yang mantan petinju nasional. Percakapan berlangsung. “Bisa saya sekolah di sini Bapa?” Janias tak sabar. Utun tersenyum, “Bisa,”jawabnya. Janias melihat Utun memainkan raketnya. “Ayo Janias, kamu bisa!” Satu raket telah di tangan Janias. Ia bingung, belum pernah sekalipun ia memainkannya. Namun ia menerima tantangan Utun, Janias mencobanya. Percakapan di lapangan bulutangkis itu pun berlangsung hangat hampir dua jam. Selanjutnya Utun membawa Janias ke kantor sekolah. Memperkenalkan Janias kepada Pak Sam Koibur, Pendeta dan guru agama yang di kemudian hari banyak menolongnya.

JADI PELAJAR DI KOTA
Beberapa guru berdatangan. Janias dites matematika. Hasilnya, Janias diterima, masuk kelas 2. Ahai! Senang bukan main. Seperti mimpi. Sore itu pun Janias diajak Sam tinggal di rumahnya. Ia memberinya pakaian dan sandal. Saat mau mandi, Sam menyodorkan sabun dan odol serta mengajari cara memakainya. “Saking senangnya saya pakai sabun berulang-ulang sampai sabun tipis. Begitu juga dengan odol, saya cicipi dulu, sepertinya enak di makan tapi lama-lama pedes,” ujarnya geli. Di hari Minggu, Pak Sam membawanya ke gereja. Mengenalkan Janias pada beberapa jemaat. Salah satunya pasangan suami-istri, yaitu Bibar Kawab dan Hetty. Mereka anggap Janias seperti anak sendiri, meskipun mereka sudah punya tiga anak.

Keluarga ini menampung Janias selama 5 bulan, sampai akhirnya Janias tinggal di asrama Tomawin yang dibuat Freeport untuk anak-anak asli Papua. Janias tinggal di asrama sampai lulus SMP. “Ada peristiwa besar ketika saya lulus SD. Saya pulang kampung, Bapa bilang dia tidak mau saya lanjut sekolah. Ia ingin saya menikah dan sudah disediakan pasangan. Saya tolak mentah-mentah. Saya bilang pada Bapa, istilahnya bikin api untuk masak saja tidak bisa, apalagi bikin kebun. Bapa akhirnya mengerti, saya boleh lanjut sekolah,” kenangnya.

TERSERANG DEMAM “ANEH”
Menjelang lulus SMP, Janias jatuh sakit. Saat itu, asrama sepi. Hampir seluruh teman-temannya pulang kampung karena libur. Ia demam tinggi seperti terkena malaria. Anehnya setiap tidur ia mimpi buruk, bertemu dengan orang-orang yang telah meninggal dunia. Janias merasa ada yang tak beres dengan sakitnya. Terpikir olehnya Bapanya telah bikin doa adat. Syukurlah rumah Pak Bibar tak jauh dari asrama. Janias dibawa ke rumah sakit. Ia dirawat dengan penuh kasih sayang. Hampir sebulan sakit aneh itu menyerang. Berat badannya turun drastis. Belum sembuh benar Janias nekad pulang kampung. Ia berjalan selama 10 jam untuk sampai di rumah. “Sampai di rumah saya tidak tahan marah karena dalam pikiran saya, Bapa telah buat saya sakit dengan doa secara adat. Kami berdebat keras. Bapa bilang ia tak setuju saya teruskan sekolah. Apalagi dia dengar setelah lulus SMP, saya akan dikirim PT. Freeport sekolah ke Australia. Saya bilang ke Bapa, ingin tetap sekolah biar punya masa depan.” Samuel Miagoni melihat kesungguhan anaknya. Kesungguhan belajar yang tak dapat ditawar lagi. Sehari di rumah,  kesehatan Janias tiba-tiba pulih total.

MENEMBUS BATAS
Hari berikutnya ia kembali ke asrama. 12 Agustus 2004 terbang ke Australia. Menjadi murid High School St. John, Darwin. Di Ausie beberapa penghargaan diterima Janias, diantaranya outstanding effort untuk semua pelajaran di SMA-nya itu dan juga sertifikat Basket. Tuhan selalu buka jalan. Saat bingung mau kuliah, Michael Beanal sahabatnya mengenalkan Harry Widjaja, pemerhati Papua, Papua Inheritance. “Saya dapat beasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara,” ungkap syukur mahasiswa semester satu jurusan ilmu komunikasi itu. Janias Miagoni, putra Arwanop itu masih terus berlari. Menembus batas-batas kemustahilan. Apa yang tak mungkin?

Leave a Reply