Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Kisah Nyata Anak Hasil Perkosaan: “Tuhan Menjaga Saya”




eBahana.com – Henny Sukmawati, saat berumur 18 tahun, Henny baru tahu bahwa kelahirannya menyimpan cerita kelam. Ia adalah anak yang sebenarnya tak diharapkan. Syukurlah kenyataan pahit ini tak membuat kepribadiannya terguncang. Tuhan telah menjaga hidupnya melalui orang-orang di sekitarnya.

Henny kecil tinggal di Bandung bersama opa, oma, dan adik-adik mama. “Orangtua bekerja di Jakarta. Saya jarang bertemu mereka. Paling setahun sekali. Jadi, saya tidak punya gambaran tentang orangtua,” kenang
Henny mengawali kisahnya.

Kasih yang Menghidupkan
Umur setahun, opa meninggal dunia. Om dan tante bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan Henny. Ada yang sangat melekat dalam hatinya, yaitu bila malam tiba, oma selalu bercerita tentang kisah-kisah di Alkitab. Oma yang sangat mengasihinya itu mengajari Henny berdoa. Kala Henny terbangun dari tidur, kerap ia melihat oma sedang berlutut berdoa, menyebut nama Henny dalam doanya. Bahkan ada kalimat doa oma yang pernah ia dengar, ”Tuhan, meskipun dunia mengatakan cucuku adalah anak haram, tapi dalam Tuhan ada masa depan.”

Setiap Minggu, pukul 05.00 pagi Henny dibangunkan untuk mandi dan ikut oma ke gereja. Setelah kebaktian
selama 2 jam, barulah oma membawanya ke Sekolah Minggu. Semua kenangan itu masih sangat lekat. Henny merasa senang bertemu dengan guru-guru yang menyayanginya. “Guru pertama saya Tante Since, salah satu guru di Sekolah Minggu, memiliki keterbatasan. Kalau sekarang, istilahnya down sindrom. Tidak pintar ngajar, tetapi kasihnya yang tulus sangat menyentuh.

Begitu pula dengan Ci Lisda. Ia memberikan kartu dengan tulisan “Tuhan akan menyelesaikan bagimu” sambil memeluk saya. Minggu adalah hari yang sangat saya nantikan. Saya mendapatkan kasih dari guru-guru Sekolah Minggu. Kelas 6 SD, saya ikut mengajar Sekolah Minggu,” tutur wanita kelahiran 27 Maret 1973
ini.

Orangtua Henny bercerai saat ia duduk di SMP kelas 3. Bapak dan 3 adiknya tinggal di Jakarta, sedangkan ibunya kembali ke rumah oma. Henny tertutup di hadapan teman-temannya. Ia tidak mau mereka tahu kondisi orangtuanya.

Kisah Masa Lalu
Ketika Henny berusia 18 tahun, tantenya menyampaikan sesuatu yang sangat mengagetkan. Ia mengatakan Henny adalah anak hasil perkosaan. Saat itu ibunya berusia 18 tahun. Ia datang ke acara pesta ulang tahun temannya di sebuah hotel. Di sana ibunya bertemu banyak teman baru termasuk teman pria. Tak lama setelah berkenalan, ibunya minum minuman yang telah dicampuri obat tidur oleh seseorang. Dalam kondisi tidak sadar itulah ia diperkosa. Beberapa minggu kemudian, ia positif hamil. Kejadian ini sangat memukul keluarga karena mereka adalah keluarga baik-baik. Pria itu tidak mau bertanggung jawab. Ibunya mencoba aborsi dengan berbagai cara, tetapi tidak berhasil. Bayi dalam kandungan itu terus tumbuh. Perutnya semakin besar.
Menginjak usia kehamilan sekitar lima bulan, dalam keadaan stres itulah ia mendengar suara di hati yang berkata, “Kalau kamu nggak berhasil menggugurkan bayi dalam kandunganmu, bunuh diri saja.” Begitulah suara itu. Terlintas dalam pikiran ibunya pergi ke Jakarta. Tujuannya adalah kebun binatang Ragunan. Ia akan masuk ke kandang binatang buas, harimau atau buaya. Berharap diterkam dan mati. Terlintas juga menabrakkan diri ke kereta api. Keputusan satu, mati!

Dalam keadaan depresi ini ibunya berkenalan dengan pria yang mau menikahinya dengan persyaratan tertentu. Merasa terdesak dengan perut membesar, ia terima tawaran itu. “Saya lahir tetap menjadi aib bagi mami saya. Secara halus saya dibuang ke oma. Saat itu pula saya tahu bahwa mereka tidak pernah memberi
oma uang untuk keperluan hidup saya. Bersyukurlah saya tinggal bersama oma, tante, dan om yang sangat menyayangi saya. Saya menemukan figur ayah dari om, adik mami yang paling kecil.”

Mendengar asal usul dirinya, Henny kaget bukan main. Sempat terlintas kekhawatiran mengenai masa depannya. Apakah ada pria yang mau menikahinya? Namun, itu berlangsung beberapa hari saja. Henny percaya, bersama Tuhan tidak ada yang perlu ditakutkan. Firman Tuhan yang pernah ia dengar menjaga
dirinya menghadapi kenyataan pilu itu. “Saya sudah menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Jadi, nggak sampai tergoncang berat. Biasanya anak aborsi mengalami pemberontakan, tapi saya tidak. Ajaib memang. Ibaratnya saya keburu kenal Tuhan jadi punya pegangan kuat. Menurut saya, keluarga oma dan guru-guru Sekolah Minggu telah membentuk saya. Tuhan memelihara saya lewat adik mama dan oma. Tidak ada dendam pada papi kandung. Saya juga tidak ingin mencarinya dan bertemu, dan rasanya tidak perlu. Saya tidak menyimpan kepahitan. Saya percaya karena sejak kecil saya dibawa kepada Tuhan,” jelasnya mantap.

Penerimaan yang Menguatkan
Henny tak mau menutup rapat-rapat masa lalu itu. Ketika menginjak hubungan pacaran ia menceritakan kisah itu apa adanya. “Ternyata baginya tak masalah, begitu pula dengan keluarga besar. Tidak ada penolakan. Mereka menerima saya dengan baik. Doa saya dikabulkan Tuhan, sekali pacaran dan menikah,” ujar istri Ps. Dave Rustanto dan ibu dari Nikiko Stella, Keniko Stefanus, dan Yukiko Shannon.

Tak lama setelah ibunya tinggal di Bandung, oma meninggal. Menghadapi itu, ibunya sangat stres dan sempat masuk RS Jiwa. Waktu berumur 2 tahun, ibunya pernah mengalami step yang mengganggu sistem syarafnya.
Ia tidak bisa menanggung beban. “Hidupnya harus rutin dan tenang. Empat tahun terakhir ini ia memilih tinggal di rumah perawatan. Ia tidak bisa melihat interaksi, misalnya mendengar anak menangis. Jiwanya lemah. Goncangan berat baginya ketika ia dicerai papi, sementara adik saya baru lepas ASI,” ujar wanita yang sedang menyelesaikan S3 di Harvest (Transformation and Leadership) yang juga melayani di bidang Children and Teens Pastor dan Youth Pastor di IFGF GISIKeluarga Allah bersama sang suami.

Sampai hari ini, tak ada percakapan antara Henny dan ibunya mengenai masa kelam itu. Henny yang melihat kondisi ibunya mengalami banyak goncangan dalam hidupnya, tak berniat membahasnya. “Rasanya mami juga nggak tahu bahwa saya sudah tahu tentang hal itu. Saya iba, kasihan melihatnya…” Ketika Henny mengikuti retret di Israel, tepat pada hari ulang tahunnya. Hatinya terdorong membuat sebuah lagu dari perjalanan hidupnya dengan Tuhan. Lahirlah lagu Selain Kau Tiada yang Lain yang dipopulerkan melalui Harvest Praise Ministry. Kini, hampir 20 lagu tercipta dari hidupnya.

Mengingat doa dan iman sang oma, dalam Tuhan ada masa depan.

(Niken Maria Simarmata)



Leave a Reply