Input your search keywords and press Enter.

Kasih Mengalahkan Kecacatan

Telapak tangannya tak berjari lengkap. Namun, karena kasih Kristus yang ia rasakan, Yeni bisa melalui hari-harinya dengan keberanian untuk memberkati sesamanya yang difabel di Pusat Rehabilitasi, Yakkum.

Pernahkah Anda membaca kisah Rut dalam Alkitab? Kisah Rut sangat menarik hati, kisah seorang putri bangsa Moab yang jatuh hati kepada Mahlon, putra Naomi. Rut sendiri adalah putri kandung raja Moab yang gemuk besar, Eglon.

Rut segera menjadi bagian terdalam dari hidup Naomi setelah suaminya, Mahlon, mati secara tidak terduga. Karena kasih yang ditunjukkan Naomi kepadanya, kita dapat mengingat perkataan Rut yang paling terkenal, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16 – 17). Balasan kasih yang tulus dari Rut kepada mertuanya, Naomi.

Cacat Tak Menghalanginya
Rut keturunan Moab. Dalam sejarah, bangsa Moab memiliki cacat di hadapan Tuhan karena mereka sempat mengupah Bileam bin Beor dari Petor di Aram-Mesopotamia untuk menghalangi dan mengutuki bangsa Israel dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir ke tanah Kanaan (lihat juga Ulangan 23:3). Namun, rupanya “cacat” tersebut tak menghalangi Rut untuk menjadi bagian dari silsilah Juruselamat kita, Yesus Kristus. Dengan kasih dari Naomi, Rut akhirnya bisa hidup bersama dengan Boas dan menjadi buyut Raja Daud. Kasih membuat Rut memperoleh keberanian untuk melalui “kecacatan” sejarah bangsanya dan kemudian bergabung dengan umat pilihan-Nya.
Begitu pula yang dialami oleh Yeni Amelia Rory (44). Oleh karena kasih Kristus yang selalu dirasakannya, ia jadi bisa mengalahkan ketakutan-ketakutan yang pernah menghantui dirinya sejak lama. Yeni cacat sejak lahir. Dua telapak tangannya tidak memiliki jari-jari yang lengkap, bukan karena kecelakaan, bukan karena kesengajaan, melainkan karena keturunan.

“Saya pernah merasa was-was. Saya dari keturunan yang cacat begini, apakah nanti setelah saya menikah, suami saya akan tetap setia? Mengingat cacat yang saya alami ini bersifat menurun ke anak cucu,” ujar Yeni ketika menceritakan kekhawatirannya dahulu sebelum ia menikah dengan Sahari (48).

Kasih Menembus Ketakutan
Ternyata karena kasih dari Tuhan, cerita kehidupan Yeni tetap berjalan baik. Ia menikah dengan Sahari pada 1990. Mereka telah dikaruniai Tuhan satu putri dan dua putra, Siska Silvia (22), Jefry Yoga (14), dan Jeremy Aldofriandrey (9). Anak pertama dan kedua memiliki cacat fisik yang identik dengan Yeni, tetapi anak ketiga normal.

“Anak pertama saya, Siska Silvia, sudah menikah kurang lebih tiga tahun yang lalu. Ia berbahagia bersama suaminya yang normal (secara fisik). Kini, mereka tinggal di Bandar Lampung. Cucu saya yang dilahirkan oleh Siska juga mengalami cacat yang sama dengan saya, tetapi saya melihat Siska tidak memiliki kekhawatiran berlebih seperti saya dahulu. Memang kasih mengalahkan ketakutan,” ujar Yeni tertawa sembari mengiris bawang merah di ruang dapur Yakkum.

Dengan kasih dan senyumannya yang selalu ramah, kini Yeni melayani sebagai pemasak di lingkungan Pusat Rehabilitasi Yakkum, Yogyakarta. Ia menjadi berkat dengan masakan-masakan sederhana yang ia olah di sana bagi pengurus dan anak-anak difabel.

Leave a Reply