Input your search keywords and press Enter.

Grace Kencana Pranata (22): Orang-orang Baik Hati Dalam Kereta Api

Salah satu Tugas Akhir Semester (UAS) kala itu mengharuskanku melakukan perjalanan dari Jakarta menuju
Cianjur dan Sukabumi untuk liputan. Pada pertengahan 2015, kelompokku mendapat undian liputan penulisan feature perjalanan ke Cianjur dan Sukabumi. Dosenku sempat khawatir memberikanku izin, karena kelompokku hanya beranggotakan tiga orang, tanpa ada seorang pun mahasiswa laki-laki. Sempat terbayang hal yang tidak-tidak karena kami akan traveling gaya backpacker yang mungkin akan bermalam di masjid atau menumpang di mobil bak terbuka.

Pada hari keberangkatan menuju Sukabumi dengan menggunakan kereta api yang berangkat dari stasiun Bogor, salah seorang di kelompokku mengabarkan tidak jadi ikut karena sakit. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku dan Siska (22) tetap melanjutkan perjalanan karena kami harus menyelesaikan liputan perjalanan tepat waktu.

Bertemu orang-orang asing yang baik hati

Barang yang dibawa sudah terlalu banyak seperti kamera dan tripod, aku dan Siska enggan membawa bekal makanan. Di dalam kereta, kami duduk berhadapan dengan dua wanita yang tidak kami kenal. Mereka berdua
memerhatikan kami. Kami pun berkenalan. Mereka menyebut nama masing-masing, Mbak Jane dan Mbak Desy.

Mereka asik diajak ngobrol, bahkan mereka tampak senang berbagi makanan dengan kami. Awalnya kami memang merasa sungkan, tetapi akhirnya kami bersedia menerimanya. Terima kasih, Mbak! Kami pun menceritakan tujuan kami pergi ke Sukabumi.

Mbak Jane dan Mbak Desy mengaku berasal dari Sukabumi. Mereka memberi masukan nama-nama tempat terbaik di Sukabumi untuk kami kunjungi dan liput. Menarik sekali!

Semua Rencana Berubah

Sesaat setelah itu, aku dan Siska berpindah tempat duduk. Tiba-tiba. Mbak Jane mendatangi kami, menyodorkan secarik kertas kepadaku. Aku sungguh terkejut! Kulihat isinya ternyata … coretan tangan Mbak Jane yang coba menggambarkan peta sederhana sebagai patokan perjalanan kami, lalu ada pula rincian biaya transportasi agar kami tidak mudah tertipu. Tak lupa, Mbak Jane dan Mbak Desy mencantumkan pula nomor HP mereka, khawatir kalau kami ada apa-apa.

Dekat dengan tempat duduk yang baru kami duduki, berdiri bapak kondektur kereta api. Beliau melirik kami berdua lalu menanyakan ke mana tujuan kami. Rencana awalnya kami akan turun di stasiun Cianjur untuk meliput wisata kuliner, sementara itu meliput beberapa lokasi wisata menjadi opsi terakhir. Namun, lagi-lagi
Tuhan menolong kami lewat bapak kondektur. Ia memberikan banyak penjelasan, di stasiun mana seharusnya kami turun, bagaimana rute perjalanannya, dan berapa besar biaya transportasi menuju tempat-tempat wisata.

Setelah bertemu dengan Mbak Jane dan Mbak Desy, Tuhan juga mempertemukan kami dengan bapak kondetur kereta api yang baik hati. Perjalananku bersama Siska yang semula terbayang akan menakutkan berubah menjadi perjalanan yang sangat membahagiakan. Terima kasih, Tuhan! Niken Maria Simarmata

Leave a Reply