Input your search keywords and press Enter.

Dewi Simamora: Pertolongan di Puskesmas

Tujuh Januari, kami hanya membawa uang Rp35.000,- ke Puskesmas Duren Sawit, Jakarta Timur. Itulah uang yang kami punya.

Dengan pinjaman motor adikku, aku membonceng Bang Timo, suamiku, sambil menggendong Mikha, anak ketiga kami yang masih berumur tujuh bulan.

Suami dan Anak Sakit
Mikha sudah sebulan lebih batuk pilek. Sementara Bang Timo, ada benjolan di lehernya. Setahun lalu benjolan di leher pernah muncul. Hasil pemeriksaan adalah pembengkakan kelenjar. Sebenarnya ada tahapan pemeriksaan lagi, tetapi tidak dilakukan karena tidak ada dana. Sampai akhirnya kambuh lagi.

Sampai di Puskesmas pukul sembilan pagi. Aku ke loket pendaftaran, membayar Rp5.000 untuk Mikha dan Bang Timo. Karena beda bagian, aku naik turun tangga. Mikha di lantai 1 dan urusan suamiku di lantai 2. Bang Timo diam, kutahu ia  menahan sakit.

Bingung
Perutku melilit, sakit. Lapar betul. Kami belum sarapan. Bukannya tidak sempat makan, tetapi memang tidak ada yang bisa kami makan. Mattew, anak sulung kami, kelas 1 SD hanya sarapan teh manis dan risol. Gula pasir habis. Aku dan Bang Timo tidak bisa minum manis.
Kuminta Bang Timo membeli gorengan dan segelas air mineral. Kuulurkan selembar uang lima ribuan. Uang di tanganku tinggal Rp25.000. Suamiku diminta untuk tes dahak dengan membayar Rp10.000.

Awalnya Bang Timo mau membatalkan tes dahak mengingat kami masih butuh uang untuk tes montoux Mikha. Aku bingung. Dua-duanya sama penting. Namun, aku berpikir Bang Timo harus segera diperiksa untuk mengetahui pengobatannya. Ia harus sehat agar bisa bekerja dengan baik. Ia bekerja sebagai satpam di sebuah gereja, sedangkan aku tak lagi bekerja sejak kelahiran Mikha.

Kupikir kali ini Mikha mengalah. Berharap tak lama lagi kami punya uang untuk bisa memeriksakan Mikha meskipun ke dokter dengan biaya yang jauh lebih mahal dari puskesmas. Sedikit kupaksa Bang Timo untuk menjalani tes, maka sisa uang di tanganku Rp15.000, sedangkan biaya tes montoux untuk Mikha Rp25.000.

Perawat yang Baik Hati

Aku telah mendaftarkan Mikha test montoux pada pertengahan Desember tahun lalu. Untuk tes ini perlu 20 anak. Kusampaikan pada perawat bahwa tes montoux untuk Mikha batal. Perawat berambut panjang dan bertubuh tinggi itu menatapku penasaran, “Kenapa, Bu? Ibu sudah mendaftarkan lama sekali,” tanyanya. Sambil menahan malu kujawab apa adanya, “Uang saya kurang. Tinggal Rp15.000. Belum lagi nanti bayar parkir.  Maaf, Suster,” jawabku.
Ia mengajakku bicara bergeser di tempat lain. “Sini, sini, Bu.” Aku mengikutinya. Bu Perawat merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang, Rp25.000.

“Ibu,  ini ada uang. Silakan bayar ke kasir. Kasihan anaknya, ia juga perlu tes untuk melihat gejala flek,” katanya sambil memberikan uang.
Aku tertegun. “Ibu, hhhmmm tiga hari lagi saya datang ke sini ambil hasil tes. Nanti saya ganti,”kataku terbata.

Perawat yang baik itu tersenyum, “Tidak usah ganti. Saya tulus memberikan. Kebetulan ada. Ayo, Bu, bayar saja ke kasir,” ia menyemangatiku. “Terima kasih, Suster.”Aku bergegas ke kasir, lupa bertanya nama perawat yang penuh perhatian itu.

Belum Kutemukan
Tiga hari kemudian aku balik ke puskesmas untuk mengambil hasil tes. Dari rumah sudah kusiapkan Rp25.000, berniat  mengembalikan uang perawat yang telah menolongku.  Betapa aku berterima kasih kepadanya. Kucari-cari perawat yang baik itu, tapi tak ketemu.
Aku sudah ke puskesmas dua kali setelah peristiwa itu.
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya dan akan kukatakan bahwa Tuhan telah memakainya untuk menolongku. Atau, suster itu adalah Tuhan sendiri?

Entahlah, yang pasti hari itu Tuhan telah mengangkat kesusahanku di puskesmas.(Kisah Dewi kepada Niken)

4 Comments

Leave a Reply