Input your search keywords and press Enter.

Berkat di Balik Terali Besi (I)

Sebuah pertanyaan pernah dilontarkan kepada Penulis sehubungan dengan kegiatan pelayanan yang dilakukan di balik terali besi, atau tepatnya di Rutan Polres yang kini telah menjangkau Rutan Polres di tiga wilayah, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat,  Provinsi Banten dan Rutan Polda Metro Jaya.

Pertanyaannya adalah,  “Kenapa Anda melayani di rutan-rutan Polres? Bukankah melayani di Rutan Polres tidak ada uangnya? Lalu dari mana Anda bisa bertahan hidup, apakah ada yang mensponsori Anda? Dan masih banyak pertanyaan lain yang sejenis, apakah ada yang salah dengan pertanyaan tersebut? Tentu saja tidak, karena mereka berpikir dengan logika mereka dan itu sah-sah saja, saat itu Penulis memberikan jawaban yang sangat sederhana “Saya bisa tetap bertahan hidup oleh pemeliharaan Tuhan Yesus yang saya layani.” Tetapi jawaban itu justru membuat mereka semakin penasaran, akibatnya mereka memberondong dengan berbagai pertanyaan lain hingga terjadilah debat kusir yang tak berujung.  Kenapa perdebatan itu terjadi? Karena kami berbeda pendapat, mereka menggunakan logika sementara Penulis menggunakan iman, jelas tidak nyambung, karena logika dan iman itu acapkali berlawanan.

Agar lebih mudah untuk memahami antara logika dan iman, Penulis memberikan ilustrasi, sambil memegang sebuah bola lampu pijar ditangan, Penulis bertanya kepada mereka, kalo bola lampu pijar yang saya pegang ini saya angkat setinggi kira-kira satu meter kemudian saya jatuhkan di atas sebuah keramik lantai, menurut pendapat kalian mana yang akan pecah? Bola lampunya, atau keramiknya? dengan suara lantang mereka menjawab, jelas bola lampunya yang akan pecah. Penulis yakin sebagian besar dari para pembaca akan memberikan jawaban yang sama, yaitu bola lampunya yang pecah, benarkah? Apakah jawaban mereka dan pembaca salah? Tentu saja tidak, karena kalian menjawab berdasarkan logika. Tetapi Penulis akan memberikan jawaban yang berbeda, bahwa yang akan pecah adalah keramiknya dan bukan bola lampunya, kenapa bisa begitu? Karena Penulis tidak menggunakan logika, bisa dibuktikan? Tentu, dan siapapun bisa melakukannya dengan mudah asalkan percaya, bahwa kekuatan manusia itu sesungguhnya terletak pada pikirannya, dan bukan pada kondisi fisiknya. Ilustrasi di atas bukan cuma sekedar basa-basi belaka, tetapi benar-benar bisa dibuktikan dan hanya menggunakan kekuatan pikiran non magic. Adakah diantara pembaca yang ingin mencobanya? Silahkan mengambil sebuah keramik seperti yang biasa dipasang untuk lantai di rumah, pada umumnya berukuran 20 x 20 cm warna putih dan tidak terlalu tebal, lalu ambil juga sebuah bola lampu pijar yang umum dipakai di rumah biasanya ada yang 15W, 25W, 40W dll. Kemudian jatuhkan bola lampu pijar tersebut di atas keramik kira-kira setinggi 1 meter. Kalau ternyata bola lampu pijarnya yang pecah, ulangi lagi sampai terjadi keramiknya yang pecah. Jika tetap tidak berhasil barangkali saja ada yang salah dengan pikiran anda, coba lebih konsentrasi lagi dan coba lagi, pikirkan dengan serius bahwa anda bisa memecahkan keramik tersebut dengan bola lampu pijar yang anda pegang, selamat mencoba! Kalau tetap tidak bisa juga, jangan putus-asa, silahkan hubungi Penulis via FB atau melalui media sosial lainnya yang anda ketahui, dan anda akan dipandu dari jauh, percayalah anda pasti bisa!

Penulis berharap ilustrasi tersebut bisa menjawab pertanyaan di atas, bahwa segala sesuatu bisa terjadi tidak selalu dengan menggunakan logika, tetapi segala sesuatu bisa saja terjadi dengan menggunakan kekuatan pikiran dan itulah iman, dan hal itu sangat tergantung kepada iman kita masing-masing.

Berikut ini Penulis akan memberikan ilustrasi yang lain, jika kita bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan, tentu kita akan mendapatkan gaji mungkin ditambah dengan tunjangan lain-lain dan bahkan jika kita bekerja melebihi jam kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan kita akan diberikan uang lembur dan kita tidak akan dirugikan. Dan jika kita ditugaskan oleh perusahaan pergi ke suatu daerah atau ke luar negeri untuk kepentingan perusahaan, maka perusahaan akan memberikan fasiltas yang kita butuhkan dalam melaksanakan tugas tersebut dengan memberikan uang transport, biaya akomodasi dan bahkan uang saku, begitu bukan? Sekarang bagaimana dengan pekerja Tuhan Yesus? Bukankah Tuhan Yesus jauh lebih hebat dan lebih bertanggungjawab dari manusia, dan pasti telah menyediakan berkat dan segala yang dibutuhkan oleh hamba-Nya dalam melaksanakan tugas suci dan mulia tersebut?

Di dalam Firman Tuhan ada tertulis : “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”  (Matius 10:42).

Ayat tersebut membuktikan bahwa sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan terhadap sesama manusia, upahnya tetap diperhitungkan oleh Tuhan Yesus. Bisa saja dihadapan manusia tidak dihargai dan dianggap tidak berarti, tetapi tidak demikian halnya dengan Tuhan Yesus. Karenanya Penulis percaya bahwa, Tuhan Yesus telah menyediakan berkat bagi mereka yang melayani, dan yang melaksanakan misi Tuhan Yesus sesuai dengan perintah-Nya. Ketika Tuhan menyuruh Elia untuk pergi ke suatu tempat, disana Tuhan telah menyediakan berkat untuknya, coba kita simak baik-baik kutipan firman Tuhan kepada Elia yang berikut ini :

“Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.”  (1 Raj. 17:2-4).

Tuhan Yesus benar-benar sangat bertanggungjawab apabila Dia mengutus hamba-Nya dan pasti telah menyediakan berkat baginya selama hamba itu melakukan segala sesuatu menurut perintah-Nya.

Jadi kalau ada hamba Tuhan yang bekerja di Organisasi Gereja sebagai Pendeta, tentu saja salah satu berkatnya melalui gaji yang diberikan oleh Organisasi tersebut beserta dengan tunjangan lain layaknya seorang pegawai perusahaan. Tetapi bagaimana dengan hamba Tuhan seperti Penulis dan kawan-kawan yang memposisikan dirinya sebagai pekerja Tuhan Yesus yang melayani secara independen tanpa mendapat gaji dan tunjangan apapun dari organisasi, lalu siapakah yang akan membayar?

Jika Tuhan Yesus yang membayar, bagaimana cara membayarnya? Mungkinkah Tuhan Yesus mengutus Malaikat-Nya untuk mengantarkan gaji para pekerja-Nya, atau barangkali melalui rekening bank yang ditransfer langsung dari Bank Surga? Tentu tidak seperti itu, meskipun itu bisa saja terjadi, bagaimana kalau menurut pendapat Pembaca?

Penulis juga tidak tahu, yang pasti berkat-Nya selalu dicurahkan tepat waktu dan tidak pernah terlambat, masalah kapan dan bagaimana caranya tidak seorangpun mengetahuinya. Terlalu banyak cara yang bisa digunakan oleh Tuhan sebagai media untuk mencurahkan berkat-Nya kepada mereka yang percaya, bisa melalui burung gagak atau janda miskin seperti yang pernah terjadi pada zaman Elia. Atau bisa juga berkat-Nya langsung jatuh dari langit seperti manna pada zaman bangsa Israel di padang gurun, lalu bagaimana dengan zaman modern seperti sekarang ini? Bisa saja Tuhan menggunakan cara yang sama atau cara lain yang diluar akal manusia, apapun caranya tidak perlu kita cari tahu, yang penting berkat-Nya sampai kepada kita tepat waktu saat kita membutuhkannya.

Menurut pengamatan dan pengalaman Penulis dalam pelayanan di Rutan dan Lapas selama ini, ada beberapa teman yang datang dan menyatakan ingin bergabung dalam pelayanan di lokasi tersebut, bahkan ada diantara mereka yang menyumbang dana untuk mendukung pelayanan, yang lain dengan sukarela membawa makanan untuk teman-teman warga binaan tanpa diketahui motivasinya. Ada lagi yang berjanji akan ikut bergabung dalam pelayanan dan menyumbang dana untuk membangun gereja, memberi makan orang-orang di dalam penjara dan lain-lain masih banyak lagi yang dijanjikannya kalau Tuhan Yesus memberkati usahanya dan berhasil meraup keuntungan seperti yang diharapkan.

Bahkan adakalanya tidak segan-segan memohon kepada Pendeta untuk mendo’akan secara khusus dengan berbagai macam komitmen yang kadang tidak masuk akal, tetapi dido’akan juga dan dicatat oleh Pendetanya sebagai janji iman. Sepertinya mereka berpikir ingin melayani supaya diberkati, dan ketika berkat yang diharapkan tidak kunjung datang perlahan-lahan mulai tawar hati, meragukan janji Tuhan dan akhirnya muntaber alias mundur tanpa berita.

Percaya atau tidak, bahwa Tuhan Yesus telah menyediakan berkat-Nya bagi mereka yang melayani, dan bukan bagi mereka yang melayani supaya diberkati. Karena sesungguhnya pelayanan itu bukan pilihan tetapi panggilan, seperti yang terjadi kepada Raja Daud yang tertulis dalam Kitab Mazmur 78:70,  “ dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambilnya dia dari antara kandang-kandang kambing domba;

Begitu juga yang terjadi kepada Penulis, bagi pembaca yang baru membaca artikel ini ada baiknya simak dulu artikel sebelumnya yang berjudul “DREAM BIG” dan “PELAYANAN DI BALIK TERALI BESI” agar pembaca lebih mudah memahami artikel yang disajikan pada edisi kali ini. Jika pembaca ingin mengetahui bagaimana Tuhan Yesus mencurahkan berkat-Nya kepada Penulis bersama dengan tim pelayanan yang lain ketika melayani warga binaan yang berada di balik terali besi, nantikan kelanjutan kisahnya masih dengan thema yang sama “Berkat Di Balik Terali Besi” ………………………..(Bersambung)

Tuhan Yesus memberkati !

 

Kesaksian III    :  Pdt. Timotius Sunyoto, M.Miss

 

Leave a Reply