Input your search keywords and press Enter.

Belajar dari Kegagalan Bisnis

Pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik. Begitu pula yang dialami  Timotius Cahyono Kurniawan (55) Ia banyak belajar menjadi lebih bijaksana bukan dari keberhasilannya, melainkan dari kegagalannya.

Pada 1996 Timotius, sapaannya, merasa sedih. Toko plastiknya di pasar Kertek, Wonosobo, hangus dilahap si jago merah. Barang dagangannya tidak ada yang bisa diselamatkan. Modal usahanya pun terkuras dan hampir tak tersisa. Namun, gelora semangat Timotius ternyata tidak padam. Ia berupaya bangkit. Cakram otaknya tak lelah mengasah akal untuk memulai usaha kembali.

Timotius kembali membangun usahanya. Kali ini ia berpindah tempat usaha. Ia memilih membuka toko di kompleks Wonosobo Plaza. Di situ ia mampu surplus. Usahanya berjalan baik, bahkan hutang karena kebakaran yang lalu pun telah terbayar.

Timotius gembira dengan situasi usahanya itu. Seiring waktu, batinnya terusik untuk melayani Tuhan penuh waktu. Lalu waktunya tersita untuk pelayanan gereja sehingga  ia menyerahkan pengelolaan Toko Mulya Plastik  kepada orang kepercayaan, seorang saudara seiman.  Timotius hanya datang untuk  membereskan keuangan ke bank.

Menaiki Dua Lokomotif

Bagaikan masinis  yang menaiki dua lokomotif yang berjalan bersamaan, tetapi dengan tujuan berbeda, Timotius menjadi tidak bijaksana mengatur waktu dan prioritas hidupnya. Pelayanannya di gereja semakin berjalan ke depan, tetapi bisnisnya malah semakin tak terarah.  Timotius membeli barang-barang yang dijualnya dengan cara kredit ke supplier. Namun, para pesaingnya yang lebih kuat dalam hal modal bisa mendapatkan barang dagangan mereka dengan cara tunai. Akibatnya barang-barang yang Timotius jual menjadi lebih mahal daripada para pesaingnya. Lambat laun, usaha Timotius banyak ditinggalkan oleh para pembeli dan usahanya mendekati kebangkrutan.

Timotius beranggapan kalau ia melayani Tuhan usahanya akan semakin diberkati. Namun, kenyataan sebaliknya Timotius malah terlilit utang. Ia tidak bisa membayar BG (Bilyet Giro) dan kehabisan dana. Ia mengambil semua dana yang ada untuk bertahan, termasuk dana yang ia pegang dari gerejanya. Namun, hal itu tidak membuat banyak perubahan.

21 April 2008, Timotius dan istrinya, Ida Natalia,  mengambil keputusan tegas untuk memperbaiki keadaan. Mereka memberhentikan orang kepercayaannya itu. “Tuhan menuntun saya untuk tidak hanya berdoa, melainkan harus ada tindakan yang nyata,” simpul  Timotius.

Bertindak Bijaksana

Belajar dari pengalaman kegagalannya, Timotius  menyadari  ia haruslah  bertindak bijaksana mengatur waktu antara kerja dan pelayanan. Di samping itu, ia harus giat, aktif, proaktif, berani bersaing positif dalam dunia usaha.

“Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Jadi, saya merasakan Tuhan itu turut bekerja dalam setiap pekerjaan yang saya tangani dengan  fokus dan sungguh-sungguh,” ungkap ayah dari Yona Charis Kurniawan ini.

Kini usaha yang dipegang oleh Timotius tampak semakin berkembang baik. Ia beranggapan sebagai seorang kristiani, apa pun pekerjaannya, pekerja harus selalu belajar bersikap profesional, “Rasanya jauh lebih enak sekarang. Usaha ditangani dengan serius dan membuahkan hasil, daripada dahulu bekerja kurang bijaksana dan setiap hari dikejar-kejar oleh penagih utang,” pungkas Timotius sembari tersenyum lega.

Leave a Reply