Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Pembelajar Muda yang Berjuang Sampai Mati

Robert Wolter Monginsidi

Ia pejuang muda dan pembelajar. Keinginannya adalah belajar sampai kapan pun, bahkan sampai kematian menjemput.
Dari balik terali besi ia berbisik, “Saya masih terus belajar. Terutama belajar bahasa. Tiap hari saya belajar 12 jam…”

M. A. Kamah – Wolter Monginsidi – Djoeritman (Makasar, c. 1948)

Betapa bangga kedua orangtuanya, Petrus Monginsidi dan Lina Suawa, memiliki putra sedewasa dan seulet Wolter. Pada usia yang terbilang masih belia, semangat belajarnya begitu tinggi. Wolter lahir di Malalayang, Manado 14 Februari 1925. Ia adalah putra ketiga dari sebelas anak. Keuletan itu Wolter dapatkan dari ayahnya.
Meski hanya petani kelapa biasa, sang ayah gigih memperjuangkan putranya agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Pada 1931, Wolter memulai pendidikannya di Hollands Inlandsche School (HIS). Kemudian ia melanjutkan ke sekolah menengah, yaitu Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Frater, Don Bosco di Manado. Ketika ia
masih berada di kelas dua MULO pada 1941, pecahlah perang pasifik dan Jepang masuk ke Indonesia. Semangat pembelajarnya kemudian membawa Wolter masuk ke sekolah guru bahasa Jepang, Kanri.

Komodo Sensei
Pada usianya yang ke-17, Robert Wolter Monginsidi sudah diangkat menjadi Komodo Sensei, sebuah julukan bagi guru yang masih muda. Ia mengajar di Liwutung. Kemudian di Ratahan, Minahasa Tenggara. Dan selanjutnya ia bertugas di Luwuk, Sulawesi Tengah. Di sana Wolter giat mempelajari buku-buku sejarah
dan kesusastraan berbahasa Inggris dan Belanda. Kebetulan saja murid-murid Wolter banyak yang menjadi anggota polisi, jadi Wolter dengan mudah meminjam buku-buku sitaan yang tersimpan di kantor polisi.

Didorong oleh sifat pembelajarnya, Wolter pergi ke Makassar. Di kota ini, Wolter mencoba belajar di Cu Gakko sekolah lanjutan pertama. Ternyata ia tidak puas dengan pelajaran yang diberikan. Wolter pun kemudian pergi dan langsung mencari pekerjaan. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta Jepang di Rantepao, Tana Toraja.

Oleh karena kegigihannya untuk belajar bahasa, Wolter tidak pernah takut bergaul dengan siapa pun. Pada September 1945, tentara Australia yang tergabung dengan Sekutu masuk ke Indonesia dan di situlah Wolter bergaul dengan mereka. Wolter memperlancar bahasa Inggrisnya dengan para tentara Australia.

Belajar Sampai Mati
Ternyata tanpa disangka tentara Australia ini telah diboncengi oleh tentara NICA Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali. Tentu Wolter tidak terima. Bersamasama dengan banyak angkatan muda ia mengadakan perlawanan. Dengan kulitnya yang putih Wolter menyamar memakai seragam NICA, membuat ulah dan menjadi penyusup berbahaya. Belanda geram dengan kekacauan yang ditimbulkan lalu menyediakan hadiah Rp400,00 bagi siapa pun yang berhasil menangkap Wolter, hidup atau mati. Pada 18 Oktober 1947 Wolter tertangkap Belanda. Meskipun sempat melarikan diri selama 9 hari, Wolter tertangkap kembali dan divonis hukuman mati. Oleh NICA, ia dianggap sengaja membunuh karena didorong oleh nafsu angkara murka.

Di penjara, Wolter terus belajar. Ia juga suka membaca buku-buku karya Emile Zola, Cervantes, dan Jules Verne. “Semasa masih di rumah saya berangan-angan untuk hanya hadapi buku-buku yang setinggi rumah yang isinya macammacam ilmu. Saya masih terus belajar. Terutama belajar bahasa. Tiap hari saya belajar 12 jam, yaitu dari pagi sampai jam 12 malam. Saya hanya rust (istirahat) sedikit-sedikit saja,” kata-kata dalam suratsuratnya.

Wolter meninggal pada usia 24 tahun di depan regu tembak Belanda dengan 8 butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya. Empat peluru bersarang di dada kiri, satu di dada kanan, satu di ketiak kiri menembus ketiak kanan, satu di pelipis kiri, dan satu di pusar. “Perjuanganku terlalu kurang. Tapi sekarang Tuhan memanggilku, semangatku saja akan tetap menyertai pemuda-pemudi.” (Robert Wolter Monginsidi)
Nug/DBS

Leave a Reply