Input your search keywords and press Enter.

Nugroho Adi, SPAK: Melayani ABK

Hampir seperempat abad lamanya Nugroho Adi (49) menjadi guru agama Kristen di berbagai sekolah. Meski demikian, seiring waktu batin Adi terusik ketika mendapati ada kebijakan sekolah yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Ia pun memutuskan keluar dari sebuah sekolah Kristen di Semarang. Mulai 2010 ia melabuhkan kariernya di YPAC (Yayasan Pendidikan Anak-anak Cacat) di Kota Semarang.

Sebuah keputusan yang amat berat diambil bapak tiga anak ini. Ada perbedaan mencolok yang harus dihadapi lulusan Sekolah Tinggi Agama Kristen (SPAK) Marturia Yogyakarta ini. Pertama penghasilan yang menurun drastis. Kedua, murid yang dihadapi bagaikan bumi dan langit. Semula ia mengajar anak-anak pintar, bersih, dan berprestasi. Kini ia dihadapkan dengan anak lemah mental (tuna grahita)
“Sebenarnya niat untuk keluar dari sekolah sudah lama tersimpan di benak saya. Setahun lamanya saya mempersiapkan mental istri dan anak supaya tidak kaget dengan keputusan saya  mengajar di YPAC,” kisah Adi saat ditemui di ruang karya YPAC Jalan KH Ahmad Dahlan 4 Semarang.

Bila mengalami kejenuhan dan frustrasi. Adi menguatkan tekadnya untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) ini. “Tujuan utama saya bukan mencari uang. Saya ingin mengikuti  Tuhan yang bersabda barangsiapa melayani sesamamu yang lemah, cacat, dan miskin engkau melayani Aku,” ujar jemaat GKJ Kabluk Semarang ini.

Mengajar
Ketika mengajar, suami Juli Budhi Astuti ini menggunakan media gambar dan film. Ia menuturkan bahwa sebagian besar muridnya belum mampu membaca dan menulis dengan baik. Misalnya, ketika mengajarkan penciptaan alam semesta. Ia menggambar cakrawala, ada gelap dan terang. Lalu Adi menulis di bawahnya hari pertama Tuhan menciptakan gelap dan terang. Anak-anak tinggal menebali huruf yang dibuat Adi. Pada waktu tertentu ia pun mengajak murid-muridnya menonton VCD kartun Alkitab, misal tentang Raja Daud. “Saat menonton film mereka berlarian. Ketika film selesai saya bertanya isi cerita, mereka juga tidak mengerti, tapi begitulah mereka,” ujarnya dengan tawa berderai.

Untuk memupuk kepercayaan diri murid-muridnya seminggu sekali Adi melatih mereka bermain bulutangkis. Dengan jalan itulah ia berharap anak didiknya tidak merasa minder meskipun mengalami keterbatasan. “Walaupun kalian mengalami ketunaan, janganlah minder karena setiap manusia berharga di mata Tuhan, apa pun kondisinya,” begitulah yang selalu Adi tanamkan dalam pikiran murid-muridnya.
Di usianya yang menjelang setengah abad, wajah Adi terlihat agak tua dimakan waktu, tetapi bola matanya masih berpijar dan ia berbicara dengan berapi-api. Ia masih begitu bersemangat mengajar murid-muridnya mengenal Tuhan dan Juruselamat, serta membantu mereka mengembangkan iman dan budi pekerti yang luhur. Ia meyakini murid-muridnya akan mampu mandiri dengan bekal keterampilan yang diberikan YPAC dan bekal pengetahuan mengenai kasih Kristus yang diberikannya.

Leave a Reply