Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Meraih Sukses di Usia Muda

Bagi mereka yang berkecimpung di bursa saham, nama Billy Budiman identik dengan kesuksesan. Kesuksesan yang diperoleh dalam usia dini.

Perkenalan Billy (17) dengan saham dimulai pada usia yang begitu muda. Sepuluh tahun. Ayahnya yang ketika itu bekerja di Indofood kebagian saham gratis. Karena kesibukan kerja, ia menyerahkan sahamnya kepada Billy untuk dipantau.

Dengan gembira, Billy yang begitu aktif, menerimanya sebagai mainan baru. Naluri anak-anaknya begitu asyik mengamati pergerakan saham yang turun-naik. Dari situ ia melakukan
simulasi beli-jual berdasar feeling.

Masih dalam usia 10 tahun, ia masuk pasar saham dan terjerembab. Ia kalah hingga 93%. Padahal pasar bullish atau naik hingga 100 persen. ”Mungkin kurang pemahaman,” katanya ketika ditemui di ITC BSD Serpong (3/8).

Februari 2004, ia mulai belajar menganalisa saham. Pada tahun 2005 ia mulai memetik hasil. Kerugian yang dideritanya mulai tertutupi. Keuntungan mulai diraupnya pada tahun 2006. Puncaknya pada tahun 2007 ketika semua orang kaya dari bursa saham panen, ia ikut mengecapnya.

Tetapi setahun kemudian bursa saham terpukul. Untungnya Billy pada pertengahan tahun itu rehat. Sehingga ketika pasar anjlok, ia tidak mengalaminya. ”Itu karena belajar analisa dari buku dan internet,” paparnya.

Belajar Sendiri
Proses pembelajaran yang dilakoni anak pertama dari pasangan Budiman Chandara dan Ellys tidaklah serumit bayangan orang. Dengan bantuan pamannya yang juga pelaku ekonomi, Billy mendalami bagaimana menganalisa saham.

Tapi dasar masih bocah, cara fundamental yang sarat angka-angka ogah didalaminya. Ia lebih memilih cara technical. ”Karena ada gambar dan garis-garis warna-warni,” ujarnya.

Dari situ kakak dari Sally Valentine (12) ini belajar sendiri. Puncaknya, ya itu tadi, ia mampu meraup keuntungan 2000% yang dimulainya dari tahun 2005. Suatu raihan yang menakjubkan. Apalagi untuk anak seusianya.

Meski begitu, sombong dan serakah jauh dari dirinya. Billy dengan ramah mau membagi pengetahuan yang didapat. “Aku mau jadi berkat bagi pelaku saham. Apalagi sebagian besar
pernah merasakan crash tahun 2008. Modal mereka rata-rata ludes sampai 70%,” katanya mengenang masa pahit bursa saham di tanah air.

Pria kelahiran 8 Juni 1992 ini menjadi pembicara yang paling diburu pelaku bursa saham. Untuk menghadiri sesi yang menghadirkan dirinya, harus merogoh kocek minimal Rp1 Juta.
Tapi harga itu tidak sebanding dengan pengetahuan yang diperoleh. Terutama dari sosok fenomena di dunia saham tanah air.

Tidak takut pengetahuannya disabot orang? Billy cepat-cepat menggeleng. “Berbagi merupakan refleksi dari nilainilai kristen,” ujar jemaat GBI KIA, Serpong ini.

Itu juga yang terpampang dalam facebooknya yang sarat komentar rohani. Siswa SMU Santa Ursula Serpong ini memang ngefans dengan Alkitab. Ia menuntaskan Kejadian- Wahyu pada usia 13 tahun.

Tidak heran kalau komentarnya begitu alkitabiah. ”Ketamakan, keserakahan atau kesombongan adalah nilai-nilai yang harus dijauhi. Kalau harga naik, jangan emosi dan pengen ambil untung terus,” katanya.

Billy selalu mengingatkan dirinya dan para pelaku saham untuk berjaga-jaga. Suatu peringatan yang dikutipnya dari Lukas 21:36.

Go Internasional
Ke depan, Billy menggenggam obsesi menjadi manajer investasi internasional. “Tapi sekarang aku mau belajar dulu,” katanya. Belajar yang dimaksud adalah memperkuat dasar ekonominya. Sejumlah perguruan tinggi sudah mengiming-imingi kursi bebas tes.

Tidak kalah penting dari itu adalah kerinduannya go international. Sisa tahun 2009 ini akan digunakannya untuk bersiap diri. Termasuk persiapan menulis di media ekonomi. “Nanti
setiap Jumat aku juga akan kasih analisa saham di stasiun televisi swasta,” paparnya.

Perjalanan Billy masih panjang, ia mengaku dirinya masih memiliki banyak impian. Tapi semuanya itu dilakoninya dengan tenang. “Aku serahkan kepada Tuhan Yesus,” tandasnya mantap. Rob

Leave a Reply