Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

“Mbak Anik”

Lulus SMA 2005 aku Kuliah di Satya Wacana, Salatiga. Langkah ke luar kota sebenarnya termasuk ‘terobosan’ bagiku. Inilah pertama kalinya berpisah dengan orangtua dan adikku

Kangen Jakarta. Kangen Bapak –Mama, Johanes adikku. Kangen teman-teman SMAku. Ah, sepinya…Maka betapa senangnya ketika Mas Kris, mbak Anik bersama mas Wahyo, suaminya dan kedua anaknya atau mas Adi, sepupuku main ke tempat kosku. Keluarga Budhe Menik, kakak mama tinggal di Salatiga. Mereka
semua tahu persis, inilah pertama kalinya aku pisah dengan keluarga.

Mereka kadang secara bersama-sama atau bergantian mengajakku jalan-jalan. Atau menjemputku membawa ke rumah mereka supaya aku tak merasa sendiri. Beberapa kali Budhe Menik mengunjungiku di kos.

Usaha Bersama
Aku mulai kenal tempat-tempat penting dan juga mendapat teman baru. Salah satunya adalah salon, dan Erna (bukan nama sebenarnya) capster salon di bagian lulur atau body treatment. Kami banyak ngobrol saat aku luluran atau spa. Erna mengungkapkan keinginannya, kalau suatu saat mengelola salon.

Mendengar keinginan Erna aku teringat orangtuaku yang selalu ngarahin anak-anak wirausaha. Mengapa tidak dicoba? Saat pulang Jakarta, kuceritakan pada orangtuaku tentang Erna. Orangtuaku mendukung saja. Erna senang saat kusampaikan kemungkinan kerjasama di antara kami. Akupun senang bisa belajar merintis usaha. Yes!

Erna kuajak ke Jakarta, bertemu orangtua. Kamipun membicarakan konsep kerjasama. Hingga prosentase
pembagian keuntungan. Deal…! Kami sepakat. Seluruh modal akan menjadi tanggung jawab orangtuaku. Erna dan aku akan mengelola bersama-sama. Balik ke Salatiga, kami akan langsung bekerja. Beberapa kebutuhan salon dikirim orangtuaku dari Jakarta.

Kami mengontrak tempat 2 tahun. Pemilik kontrakan membangun salon di tanah kosong mereka. Saat pesan
lemari dan beberapa kebutuhan salon, aku mulai melihat hal-hal tidak baik pada Erna. Kulihat ia curang. Banyak hal ia bertindak sendiri tanpa melibatkan aku. Lebih kaget lagi waktu aku dengar Erna berkata, bahwa salon itu miliknya dan posisiku hanya belajar. Mendengar laporan ini mama minta aku dan Erna terbang ke Jakarta, meluruskan masalah sebelum salon buka.

Stres dan takut
Erna kerap memakai barang-barang salon tanpa sepengetahuanku. Memang dua kunci salon dipegang kami berdua. Ia bisa masuk kapan saja. Aku tak bisa menyimpan keanehan Erna sendirian. Kusampaikan pada orangtuaku. Mereka menguatkan agar tetap berdoa menghadapi Erna.

Sebulan salon berjalan Erna mengundurkan diri. Ia terlihat mempunyai hubungan dekat dengan anak pemilik kontrakan, sebut saja Andre.

Aku dan orangtua tak menahannya. Tak lama ia membuat salon bekerjasama dengan Andre di dekat salonku. Tak apalah. Namun yang membuatku sempat terkagetkaget, tindakannya merobek brosur promosi salonku. Aku diam saja meskipun ‘panas’ juga

Tindakan Erna makin nekat. Mengancamku lewat SMS dengan katakata kasar. Bahkan mengirim SMS yang
tak pantas pada bapak. Aku sungkan terhadap orangtua karena mengenalkan Erna. Aku stres dan takut. Sempat bolos kuliah karena tak berani keluar kos.

Wanita Pemberani
Mbak Anik, ibu dua anak, bekerja sebagai marketing di radio. Dalam sibuknya memonitorku lewat telepon dan SMS-nya. Memastikan kalau aku dalam keadaan baik-baik saja. Ia melarangku menemui Erna tanpa dia.
Membantu mencari karyawan salon, mendampingiku ke notaris, kerjasama kontrakan. Mbak Anik yang berwajah tenang dan kalem ini ternyata wanita pemberani. Ia terus menguatkanku, “Tenang Ruth, nggak apa-apa. Yang penting kita ndak salah. Kita berdoa saja. Tuhan pasti tolong,” katanya suatu kali. Lega rasanya mendengar suara lembutnya. Aku seperti memiliki kakak kandung yang menjagaku. Padahal sebelumnya kami hanya kenal biasa. Sesekali bertemu di rumah eyang di Kebumen.

Tahun lalu aku lulus. Kutinggalkan Salatiga kembali ke Jakarta. Mbak Anik, aku mengingat kebaikanmu. Aku merasakan penyertaan Tuhan lewat pendampinganmu. Seperti yang diceriterakan Ruth Alfarina kepada Niken

Leave a Reply