Input your search keywords and press Enter.

Matilda Narulita: Membagi Kasih

Perempuan muda asli Yogyakarta berwajah manis ini sejak lama aktif dalam kegiatan sosial. Matilda Narulita (25) terlibat dalam Blood for Life dan Choin a Chance (CAC) Yogya. Namun, pengalaman paling tak terlupakan dan mengubah hidupnya ini tatkala ia bergabung  dengan Pengajar Muda  angkatan 2 dalam Program Indonesia Mengajar selama setahun.

Sebelum mengikuti program Indonesia Mengajar, lulusan teknik kimia UGM ini sempat magang di VICO Indonesia, sebuah perusahaan minyak dan gas yang berlokasi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sebagai production engineer. Suatu ketika Matilda merasa “tertampar” ketika Anies Baswedan, penggagas Indonesia Mengajar mengatakan “Stop cursing the darkness. Let’s light the candle” (berhenti mengutuk kegelapan, marilah menyalakan lilin). “Saya menjadi tertantang dan memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya dengan mengikuti program ini,” kenangnya.

Saat mendaftar Indonesia Mengajar bersama beberapa peserta lainnya, mereka mendirikan Komunitas Jendela. Komunitas ini bergerak di bidang pendidikan anak. Pada 2011 Matilda ditempatkan di Desa Lamdesar Barat, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Ia tinggal di rumah  Feronike Balak, janda beranak dua. Desa ini terletak di ujung timur Pulau Larat, berbatasan dengan Laut Arafuru. Masyarakat Tanimbar mayoritas beragama Kristen Protestan, tetapi cukup banyak juga umat Katolik di sana. Di desa itu mata pencaharian utama adalah menjadi petani rumput laut. PNS di desa adalah para guru yang mengajar di sekolah tersebut. Selain rumput laut, mereka mengandalkan hasil kebun seperti kacang tanah dan kacang hijau yang kualitasnya sangat bagus. Berpenduduk sekitar 670 orang, desa Lamdesar Barat termasuk desa kecil, tetapi ditata dengan rapi dan indah. Pantai begitu dekat hanya sepelemparan batu. Karena letaknya di dalam teluk, desa ini agak tersembunyi jika dilihat dari laut.

Murid yang Membanggakan
Murid-muridnya begitu antusias saat diajak belajar. Matilda berpendapat anak-anak Maluku sebetulnya sangat cerdas, hanya tidak mendapat kesempatan dan fasilitas yang sama dengan anak-anak di Jawa. Murid-murid menganggap Matilda ibu mereka sendiri, sehingga sangat melindunginya. Mereka tidak henti-hentinya datang ke rumah untuk belajar. Pulang pun, mereka lebih memilih mengerjakan tugas daripada menonton televisi yang merupakan satu-satunya hiburan di desa.

Murid paling berkesan baginya adalah Liberata Meilini Ongirwalu (Lini). Lini adalah anak yang sering diremehkan orang karena kondisi kesehatannya yang lemah. Hal ini menyebabkan ia tumbuh menjadi anak yang sangat pemalu dan rendah diri. Padahal ia tekun dan berkemauan keras. Berkat kecintaannya pada Sains, didukung dengan ketekunannya, ia berhasil lolos sampai tingkat provinsi pada Olimpiade Sains Kuark 2011. Ia menjadi murid pertama SD Kristen Lamdesar Barat yang berhasil menorehkan prestasi sampai tingkat itu.” Lini mencintai Sains, tetapi membenci Matematika. Dengan pendekatan khusus, ia mulai senang bermain dengan angka, bahkan meraih nilai Matematika dan IPA tertinggi pada Ujian Simulasi UN dan Ujian Akhir Sekolah,” ungkap Matilda bangga.

Ketika ditanya apa refleksinya setelah mendapat pengalaman tak terlupakan selama menjadi pengajar muda, Matilda mencuplik kalimat Silly, pendiri  Blood for Life, “Kebahagiaan dalam hidup tidak tergantung seberapa bahagia kita, tetapi bagaimana orang lain bahagia karena kita.”

Leave a Reply