Input your search keywords and press Enter.

Jason Christy Pranowo dan Vocalista Angels Go Internasional!

Terinspirasi dari karya besar komposer legendaris dunia George Frideric Handell, Hallelujah, Jason Christy Pranowo (35) pun ulung mencipta berbagai lagu yang kompleks dengan irama-irama yang sarat staccatto. Baginya, stacatto itu mengisyaratkan lincah dan atraktif. Bisa merespon dan bergerak di mana saja. Sesuai dengan karakternya yang dinamis dan selalu total, Jason selalu semangat untuk berkarya membangun misi musik gereja agar tidak beku dan mati. Melalui paduan suara gerejawi, inilah titik nol yang terus dia perjuangkan hingga kini.

Tidak Bisa Baca Not
Banyak anak muda gereja sekarang tidak bisa membaca not. Diminta menyanyikan lagu-lagu dari Kidung Jemaat, Madah Bakti, atau buku pujian lainnya malah gelagapan. Tidak hanya anak muda, tetapi yang sudah tua pun sama saja. Padahal seharusnya sebagai orang-orang yang bergereja, baca not itu wajib bagai makanan pokok umat kristiani, seharusnya.
Hal inilah yang membuat Jason berinisiatif membangkitkan misi musik gereja yang dirasanya sudah mati. Caranya adalah melalui paduan suara. Di sanalah letak musikalitas seseorang bisa lebih kompleks terbangun. Jason pun mulai berpikir keras bagaimana generasi muda khususnya kembali menyukai paduan suara.

Vocalista Angels Choir
Alumni Insitut Seni Indonesia (ISI) dengan mayor paduan suara ini pun memulai misinya dari gerejanya sendiri, GPdI Kemudo Prambanan, Klaten. Dari aktif dalam bemusik di gerejanya, ia mulai berani mengajar vokal dan kreatif membentuk grup-grup vokal sederhana lintas gereja. Berdirilah Merpati Voice, Suarnal, dan yang terus harum menghasilkan prestasi nasional sampai internasional hingga kini adalah Vocalista Angels Choir.
Jason mengajarkan kemandirian dan kedisiplinan yang tinggi setiap kali melatih paduan suara. Tidak peduli itu orang tua atau anak muda. Semua sama rata. Pernah ketika Jason sudah tidak kuat berjalan dan kakinya pincang, mesti kehujanan pula, ia tetap datang melatih paduan suara. Bahkan dalam melatih koreo, Jason selalu total. Ia tak pernah tanggung-tanggung menyerahkan nyawanya untuk sesuatu, terutama soal pelayanan. Jika ada yang  merokok, tentu akan dikeluarkan. Pita suara memang harus dijaga karena itu bait Allah. Tidak heran, murid-murid hasil tangan dinginnya menjadi orang-orang yang mandiri, rendah hati, menghargai partitur, punya musikalitas tinggi, dan tidak bermental tempe. Proses adalah sesuatu yang sangat dihargainya.

Tetaplah Berdoa
Bagi Jason, sebenarnya musik paduan suara ini adalah contoh paling gampang untuk memberitakan Kabar Baik ke banyak orang. Metode ini barangkali lebih efektif dibanding berkhotbah. Musik dan lagu akan langsung mengenai perasaan dan hati. Jason yang juga piawai mencipta lagu ini pernah menulis lagu yang berjudul Tetaplah Berdoa. Ketika dirinya doa pagi, lalu membuka Alkitab, Tuhan langsung menunjukkan kepadanya sebuah ayat, 1 Tesalonika 5:17. Anehnya setiap mencipta lagu, ia selalu dalam pergumulan. Dan lagu inilah yang menang lomba cipta lagu dan komposisi lagu Pesparawi Nasional. Sampai ada sebuah choir dari Ambon yang bersaksi bahwa lagu tersebut betul-betul mempunyai daya magnet tersendiri, apalagi kala daerah tersebut sedang pecah kerusuhan. Tetaplah Berdoa, membuat mereka selalu tekun berdoa agar iman mereka tidak terombang-ambingkan oleh keadaan.

Keberadaan guru kesenian dan guru musik, apalagi guru pengajar di paduan suara, bisa dihitung dengan jari. Jason ingin membuat anak muda menyukai paduan suara. Misi musik gereja ini harus dimulai dari anak muda yang tidak bersemangat instan. Ayo, siapa lagi yang ingin mengikuti jejak langkah Jason?

Leave a Reply