Input your search keywords and press Enter.

Ir. Leo Nababan : Menjadi Garam yang Menggarami

Alkitab mengatakan kita adalah garam dunia. Namun, apakah kita telah melakukan peran kita untuk menggarami?

Di mulut gang yang hanya selebar 2 meter itu tertulis ‘Masjid Ja’mi Al-Mukmini’. Menyusuri masuk sekitar 50 meter, kita akan menjumpai masjid sederhana yang mempunyai menara megah. Tempatnya yang berlokasi di pemukiman padat penduduk membuatnya tidak langsung dapat dilihat
orang. Masjidnya asri, bersih, bergaya Arab dengan menaranya yang khas. Ruangan tidak besar. Barangkali hanya bisa menampung seratusan jamaah.

Di masjid yang kecil nan asri inilah Ir. Leo Nababan (50) menjadi salah satu pengurusnya. Leo seorang nasrani yang boleh menjadi saksi bahwa sikap berbaur itu dapat memudahkan kita diterima semua orang. “Tepatnya saya didaulat menjadi ketua sie dana untuk pembangunan Masjid ini,” ungkapnya bangga kepada BAHANA. Keberadaannya di wilayah Kayu Manis, Jakarta Timur
diakui warga sekitar sebagai orang yang suka berbaur. Saat Natal banyak tokoh selain diterima masyarakat, keberadaan ritual keagamannya pun tidak pernah diusik. Leo sangat bebas mengadakan ibadah di rumahnya kendati keberadaan masjid bersebelahan persis, tidak jauh di belakang rumahnya. Saban Jumat siang terdengar azan dan ceramah sholat Jumat. Namun, malam hari berkumandang pujian gerejawi dari rumahnya. Suara-suara ini seolah menyatu dan menjadi hal biasa di telinga warga sekitar. “Saya memang sangat menghormati keyakinan orang lain. Saya pun meyakini sepenuhnya keyakinan saya. Bagi saya, mewujudkan apa yang difirmankan Yesus jauh lebih penting daripada sekadar katakata. Bisakah kita menjadi garam yang betul-betul menggarami?” Bagi Leo yang menjadi staf ahli Menkokesra ini, hidup itu harus bernilai dan berdampak. Ketika orang melihat kita setulusnya, di situlah nilai pewartaan kebenaran terpancar. Setidaknya untuk Leo, sudah dilakoni di wilayahnya. Menjadi garam yang menggarami, bukan didiamkan, tetapi ditebarkan bahkan sampai melintas batas iman. Steven Ohyagama dan masyarakat sekitar yang datang ke rumahnya mengucapkan selamat. Saban Lebaran, tak kalah gesit Leo mengujungi warga sekitar. Sikapnya ini akhirnya membuahkan kepercayaan dari tokoh agama sampai-sampai dilibatkan dalam pembangunan masjid.

Cerdik dan Tulus
Sikapnya yang sangat diterima warga ini datang dari satu filosofi yang diajarkan Yesus, yaitu cerdik seperti ular, tapi tulus seperti merpati. Namun menurut pria kelahiran 30 Oktober ini, banyak orang lebih mendahulukan ketulusan. “Alkitab mengatakan, kita cerdik dulu baru tulus. Jangan salah tangkap atau membalik pengertian ini,” jelas suami dr. F.A. Latu batara Br. Sihombing ini. Leo berakar dari darah Batak yang juga sarat petuah. Dia sangat memegang prinsip, ke mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Dia sangat menghormati dan mengenal lingkungan wilayahnya. “Sebagai pendatang, saya harus menghormati tempat di mana saya datang. Inilah yang saya maksud mendahulukan kecerdikan menyusul kemudian ketulusan,” papar ayah dua anak ini.

Sebagai Alumnus Lemhanas, pantaslah Leo tetap menjunjung tinggi pluralitas dan tidak sekadar konsep di kepala. Dia tak jemu menerapkannya di lingkungannya. Pluralitas itu adalah keindonesiaan yang menjadi kebanggaan anak bangsa.

Pemikiran Leo tentang toleransi pantas disimak, terlebih oleh warga gereja. Menurutnya, kekristenan merupakan bagian masyarakat Indonesia. Namun, manakala terjadi benturan, terkadang kita harus memperbesar lingkup kesabaran kita, kendati harus mengalah. “Kita orang Kristen hidup bukan soal menangmenangan. Terkadang kita di republik ini sudah hidup betul dan benar, tapi masih disalahkan. Itulah dibutuhkan hikmat. Bagi saya, menerapkan kecerdikan dan ketulusan itulah solusinya,” papar anggota jemaat HKBP Menteng ini.

Bebas Beribadah
Gaung toleransi dan pembauran ala Leo pun bersambut. Alhasil sikapnya ini selain diterima masyarakat, keberadaan ritual keagamannya pun tidak pernah diusik. Leo sangat bebas mengadakan ibadah di rumahnya kendati keberadaan masjid bersebelahan persis, tidak jauh di belakang rumahnya. Saban Jumat siang terdengar azan dan ceramah sholat Jumat. Namun, malam hari berkumandang pujian gerejawi dari rumahnya. Suara-suara ini seolah menyatu dan menjadi hal biasa di telinga warga sekitar. “Saya memang sangat menghormati keyakinan orang lain. Saya pun meyakini sepenuhnya keyakinan saya. Bagi saya, mewujudkan apa yang difirmankan Yesus jauh lebih penting daripada sekadar katakata. Bisakah kita menjadi garam yang betul-betul menggarami?”

Bagi Leo yang menjadi staf ahli Menkokesra ini, hidup itu harus bernilai dan berdampak. Ketika orang melihatkita setulusnya, di situlah nilai pewartaan kebenaran terpancar. Setidaknya untuk Leo, sudah dilakoni di wilayahnya. Menjadi garam yang menggarami, bukan didiamkan, tetapi ditebarkan bahkan sampai melintas batas iman. Redaksi

Leave a Reply