Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Faith and Learning Festival UPH: Iman Kristen dan Studi Akademis adalah Hal yang Tak Terpisahkan

Universitas Pelita Harapan (UPH) sebagai institusi perguruan tinggi berlandaskan iman Kristen, memahami pentingnya integrasi iman kristiani dalam setiap kegiatan akademis yang dilakukan. Untuk itu UPH mengadakan Faith and Learning Festival pada Jumat, 30 November 2018, bagi para pengajar di institusi Kristen guna menginspirasi serta membagikan visi & praktik integrasi tersebut. Dengan tema Transforming Hearts, Transforming Society, festival ini dirangkai dalam empat acara utama yaitu seminar, talkshow, practical showcase, dan essay presentation.

Dua pembicara utama dihadirkan dalam acara ini, diantaranya Pdt. Yakub Susabda, Ph.D, Former Chief of STTRI & Counselor dan Matthew R. Malcolm, Ph.D., Executive Dean of UPH Faculty Liberal Arts.

Sekitar 200 peserta baik dari UPH maupun dari perguruan tinggi Kristen lainnya, diantaranya Sekolah Dian Harapan, Universitas Maranatha, STIE Petra Bitung, GMKI Anugrah, dan SWS Indonesia.

Turut hadir pula Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., Wakil Rektor bidang Akademik, Gunawaty Tjioe, B.Ed., M.Pd., Ph.D., Hana Herawati, Wakil Rektor bidang Keuangan dan Administrasi, serta para dekan, ketua program studi, dan dosen di UPH.

“Kita semua dididik secara sekuler, sehingga tidak mudah mengintegrasi nilai kebenaran firman Tuhan seperti yang kita harapkan. Karena itu saya berterima kasih kepada panitia dan Pdt. Yakub Susabda karena sudah hadir dalam seminar ini. Semoga kita bisa berkomitmen untuk lebih mendalami dan mempersiapkan diri dalam mengintegrasi nilai-nilai kristiani dalam pendidikan akademis,” ungkap Rektor UPH dalam sambutannya.

Materi yang dibawakan oleh Pdt. Yakub Susabda bertema Christian Worldview and Human Minds, dibagi dalam dua sesi. Inti pesan yang disampaikan menegaskan pentingnya integrasi iman Kristen dan pembelajaran, serta ajakan kepada seluruh pendidik Kristen untuk mengalami “the Truth that set us free” melalui kehidupan rohani yang sehat dan dewasa.

“Pusat integrasi itu adalah orangnya. Kita harus mengenal diri kita dan apakah kita sudah memiliki pengalaman pribadi bersama Tuhan. Bila dikaitkan dengan Liberal Arts dan Exacta, maka kita harus mengenali talenta yang Tuhan berikan, bagaimana talenta tersebut hadir dan berfungsi secara baik dalam diri kita, sehingga kita menjadi pribadi yang makin memuliakan Tuhan. Nah, di sini kita berhadapan dengan realita tantangan integrasi antara faith and learning,” jelas Pdt. Yakub.

Masih menurut Pdt. Yakub, sikap menolak integrasi kerap terjadi sebagai penghambat pelaksanaan mandat budaya oleh seorang kristiani. Selain itu, hambatan lainnya adalah jiwa fundamentalistik yang menganggap doctrinal truth sebagai kebenaran absolut, menilai semua hal berdasarkan konsep doctrinal truth, juga kemampuan mengintegrasikan seluruh bagian Alkitab yang rendah.

Kemampuan mengintegrasi ini penting dimiliki para pengajar di lingkungan sekolah maupun universitas yang mengajar hal “sekuler” dan bukan theologi. Matthew R. Malcolm menyampaikan, pada universitas Kristen, para pendidik tidak hanya mencoba menjadi akademisi yang terintegrasi, tetapi juga membantu siswa untuk menjadi integrator yang disengaja secara sadar dapat melihat kesatuan kebenaran tentang Kristus dan kebenaran tugas akademis mereka.

“Kita bisa membantu para siswa dengan tiga cara. Pertama, memodelkan sikap dan perilaku yang dapat diartikulasikan dalam istilah Kristiani yang eksplisit, karena siswa tentu ingin melihat dosennya sebagai role model. Kedua, dengan menetapkan etos kelas yang mengalir dari pandangan dunia Kristen. Ketiga, dengan membawakan konten Kristen secara terbuka ke dalam kelas pada saat-saat penting,” ungkap Malcolm di akhir seminar.

Seminar ini juga diselingi sesi tanya jawab dari para peserta. Selanjutnya pada sesi essay presentation, ditampilkan karya tulis akademik pada disiplin ilmu tertentu dilengkapi dengan diskusi, lalu pada practical showcase disajikan pameran dan presentasi oleh dosen atau mahasiswa berkaitan dengan integrasi iman dan pembelajaran, dan ada pula talkshow mengenai diskusi dan pembelajaran melalui praktik integrasi yang sudah dilaksanakan di UPH.

Seluruh rangkaian festival ini diharapkan dapat diadakan kembali pada tahun depan dan dapat diikuti lebih banyak lagi para pendidik Kristen, sehingga dapat saling belajar serta berkontribusi terhadap pembangunan pendidikan Kristen di Indonesia. (It)

Leave a Reply